09 Oktober 2009

Jalan Sunyi



SUNYI DI ATAP SUNYI KITA
Thaufan Malaka

Sunyi di atap kesunyian, Derita di tungku harap
Hamba duka lara, Kapan tiba kearifan kita
Takut hanya harap, Entah gelap.

Manusia dhaif, seribu kali naïf
Bahkan tak pernah berada
Bertopeng kelemahan dan kebusukan manusia
Karakter berpura-pura manusia
Menyesali hidup.

Manusia kuat bertahta mata hati
Manusia berdiri di puncak kebenaran hakikat.

Aku berbicara kepada manusia kuat
Aku meresapi setiap kata-kata
Aku harap memberi cahaya batin

Kita hendak memenangkan harapan
Bergerak menuju Dia sebagai puncak revolusi tertinggi dalam hidup
Janji kita
Jalan kita
Sunyi kita
Revolusi kita
PADANG, 21 SEPTEMBER 2009

Jalan Musashi


09/09/09

PKM
Tadi saya mengunjungi pusat kegiatan mahasiswa. Saya melihat pohon kertas, pameran buku dan mahasiswa berseliweran. Semoga kreativitas mahasiswa tak pernah berhenti.
Masjid Nurul Ilmi
Saya menghabiskan waktu di Masjid Nurul Ilmi. Selepas Ashar aku beranjak pulang. Sebab siapa pun harus pulang.

Buka Puasa
Kemarin buka puasa bersama Kaki Lima Institute. Saya didaulat menjadi pembicara pasca buka puasa tentang puasa dan solidaritas social. Sederhana, saya ungkap bahwa puasa harus membebaskan manusia, lebih empatik dan mengembalikan kepada kesederhanaan.
Diskusi menjadi dinamis. “Buka puasa kok di hotel mewah. Ini kan mengacaukan tujuan puasa untuk empati dengan kemiskinan structural. Buka puasa menjadi budaya pop, ungkapnya.” Sebuah pertanyaan yang memancing nalar kritis semua peserta diskusi hingga menyerempet ke teori kelas Marx, siklus peradaban Khaldun dan Hegemoni Gramski.
Saya mengapresiasi diksusi kali ini. It ‘s yes man!

Negeri 5 Menara
Kemarin aku ke Gramedia untuk sebuah novel karya A. Fuadi, Negeri 5 Menara. Novelnya mengalir seperti sungai Nil. Saya membacanya dengan kenikmatan. Mungkin karena alurnya berlatar klasik di sebuah Pesantren Modern. Membacanya mengingatkan saya akan masa silam di sebuah Pesantern Kecil di Sulawesi Selatan, DDI Mangkoso Barru. Karakter tokoh pun serasa merasuk ke dalam diri.
Aku menyantap hidangan novel Fuadi, Negeri 5 Menara seraya bergumam, “Aku hendak menjadi.” Rencana aku ke depan, sederhana, ingin menulis novel juga. Man Jadda Wajada. Amin Ya Rabbal Alamin

I,m in the Night
if you believe in something, whole universe will conspire in your favor
02/10/09
Pram dan Harapan Aku
Aku mencintai Pram sehingga menyimak nasehat besarnya dengan bajik. “Menulislah demi keabadian, katanya.” Maka aku pun mencoba menulis sejak detik ini hingga maut menjemputku. Aku persembahkan sedikit kesadaranku untuk keabadian dan peradaban masa depan. Semoga semua harapan menubuh, memiliki tangan dan kaki di zaman anak-anakku.

Gempa Bumi Sumatra Barat
30 September 2009 gempa bumi besar dengan kekuatan 7.6 melanda tanah Minangkabau. Gempa ini berpusat di Pariaman dan terasa hingga ke Singapura. Gempa ini memakan korban yang sangat banyak sebab gempa berdurasi lama dan pusat gempa sangat dekat dengan kota-kota besar yaitu kota Pariaman dan kota Padang.
Sore itu di perumahan dosen, saya berdiskusi di ruang tamu bersama Fe dan Anton. Kami berencana mengadakan diskusi tentang upaya membangun tradisi kritis di Fisip Unand minggu ini. Tiba-tiba serasa atap rumah dihinggapi puluhan burung manyar. Rumah perlahan bergetar pelan dan makin intensif. Kami pun menuju halaman rumah dan melihat pepohonan tua melambai seperti ditiup badai Katrina. Di depan mata kami, bangunan Universitas Andalas dengan tiang dan dinding dari beton retak dan terburai. Sore menyisakan trauma bagi mahasiswa. Malam hari ribuan mahasiswa dievakuasi ke mesjid kampus.
Sementara di kota Padang, Pasar Raya ambruk dan terbakar saat banyak manusia berkumpul. Puluhan terhimpit dan meninggal. Di beberapa pusat belajar seperti Gama dan LIA pun siswa-siswi tertimpa bangunan dan meninggal. Di kabupaten Pariaman, 300 orang tertimbun longsor. Hotel Ambacang hancur dan menimbun banyak orang, hotel Inang Muara dan Bumi Minang pun rusak. Korban makin lama makin banyak di kota Padang dan kota kabupaten Pariaman.
Singkatnya, Infrastruktur kantor, rumah, sekolah dan jalan rusak dan melumpuhkan semua sektor. Banyak korban manusia dan kerusakan infrastruktur. Proses penanggulangan bencana harus menjadi prioritas dan humanis. Dan yang terpenting, setelah musibah diatasi secara tepat dan serius haruslah melihat ke depan. Ini harus menjadi momentum kemanusiaan dan peradaban baru bagi masyarakat Sumatra Barat. Semua harus terlibat dalam berdoa dan membantu masyarakat Sumatra Barat. Semoga Allah menganugerahkan kesabaran dan kekuatan kepada masyarakat Sumatra Barat. Amin Ya Rabbal Alamin

Potret Kacamata Metro TV
Malam hari setelah gempa, aku menyimak berita Metro TV seputar gempa bumi di Sumatra Barat di sebuah bengkel Tempel Ban. Sudut pandang berita Metro TV mengaduk-aduk rasa kemanusiaan.
Jepang bersatu: Nobunaga, hedeyoshi, tokugawa ieyasu
Lima Cincin Miyamoto Musashi
Buku kecil ini dahsyat, mengungkap rahasia Bumi, Air, Angin, Api dan Kekosongan. Buku ini ditulis oleh seorang Samurai hebat yang hampir tak pernah terkalahkan dan menemukan kebijaksanaannya dalam jalan samurai, jalan seni bela diri. Dia berpesan kepada para muridnya:
• Jangan memunggungi beragam jalan yang ada dunia.
• Jangan menginginkan kenikmatan fisik.
• Jangan berniat mengandalkan apa pun.
• Pikirkan diri sendiri secara ringan dan pikirkan dunia secara mendalam.
• Jangan pernah berpikiran tamak.
• Jangan menyesali hal-hal yang terjadi dalam kehidupan pribadi.
• Jangan iri akan kebaikan atau kejahatan orang lain.
• Jangan meratapi perpisahan di jalan mana pun untuk alasan apa pun.
• Jangan mengeluh atau merasa getir akan diri sendiri atau orang lain.
• Jauhi perasaan saat memasuki jalan cinta.
• Jangan pilih kasih.
• Jangan memiliki harapan untuk punya rumah pribadi.
• Jangan memiliki kesukaan akan makanan lezat bagi diri sendiri.
• Jangan menyimpan barang antik warisan dari generasi ke generasi.
• Jangan berpuasa hingga merusak fisikmu.
• Kecuali perlengkapan militer, jangan menyukai benda-benda duniawi.
• Saat berada di jalan, jangan menyesali kematian.
• Jangan berniat memiliki barang berharga atau tanah di masa tua.
• Hormati Dewa dan Buddha tetapi jangan tergantung kepada mereka.
• Meski kau menyerahkan nyawa, jangan serahkan kehormatanmu.
• Jangan pernah memisahkan diri dari jalan seni bela diri.

Hari kedua bulan kelima, tahun kedua soho 1645
Shinmen Musashi

Gerakan Ganda Fazlur Rahman
Seorang pemikir Islam yang tangguh harus memiliki pemikiran yang hebat. Dia, Fazlur Rahman, boleh lah menjadi spirit intelektual bagi kita. Dia merumuskan orisinalitasnya dalam metode kritik sejarahnya, metode penafsiran sistematis dan gerakan ganda (a double movement).
Kritik sejarah Rahman berupaya menemukan nilai-nilai dalam sejarah. Boleh jadi maksud Rahman adalah maksud Mutahhari ketika memaknai sejarah ilmiah sebagai upaya menemukan aturan dan tradisi dari sejarah manusia.
Metode penafsiran sistematis beranjak dari menemukan makna teks Alquran dari histori hidup Muhammad, menemukan legalitas teks dan tujuan Islam, dan merelavansikan tujuan Islam dengan latar sosio-kultural.
Metode ketiga Rahman disebut gerakan ganda. “A double movement is movements from the present situation to Quranic time, then back to the present.” Mode intelektual yang melihat kondisi hari ini dengan merujuk kepada prinsip sejarah Qurani dan memecahkan masalah dengan prinsip ini.
Akhirnya, Rahman menyarankan intelektual muslim menemukan pandangan dunia Tauhid dan merumuskan Etika Qurani dari Pandangan Tauhid ini dan Membumikan Etika Qurani ini dalam masyarakat.
Membaca Islam secara Intelektual menjadi keharusan untuk menemukan etika Islam yang sejati. Ini lah yang membawa Ismail Raji Al-Faruqi dan Naquib Al-Attas mendorong Islamization of Knowledge, Arkoun mengusung Dekostruksi untuk menemukan makna sejati Islam, Abid Al-Jabiri menggugat kritik nalar Arab untuk keluar dari romantisme kronis agar menjadi kritis demi menemukan makna progresif Islam.
Wajarlah, Fazlur Rahman menjadi guru para intelektual pembaharu Indonesia semisal Cak Nur, Buya Syafii Maarif dan Negarawan Amin Rais.


Cahaya Suhrawardi
Siapa yang tak tak takjub dengan cahaya Suhrawardi. Ibarat mentari yang menyinari bumi, Ia pun adalah mentari yang menyinari para filsuf dan teosof.
Filsafat cahaya Suhrawardi mengombinasikan intuisi dan diskursif. Filsafatnya meyakini fundamentalnya esensi cahaya. Realitas cahaya tertinggi disebut Nurul Anwar yaitu Allah yang bergradasi memancarkan cahaya murni dan beremanasi lagi menjadi cahaya-cahaya dengan gradasi yang lebih rendah.
Filsafat cahaya menjadi pilihan dalam memahami realitas metafisika.

02 April 2009

Peran Media


Peran Media Jelang Pemilu 2009
Oleh: Muhammad Thaufan A*
Menjemput Pemilu 2009 ini, dinamika politik di Indonesia berada di bawah bayang kuasa media. Politik dikendalikan oleh media sehingga politik belum menjadi politik sebelum media menghadirkannya. Penghadiran (representasi) media menunjukkan relasi kuasa dan identitas politik yang semakin mencerdaskan publik. Misalnya tayangan program Debat Partai di stasiun TV One, program Kursi Panas di Trans7, Kencan Politik di Antv dan Program Partai Bicara di Metro TV. Program semacam ini memperjelas peran media sebagai penyingkap tabir ketidaktahuan publik terhadap wacana politik aktual dan menjanjikan masa depan masyarakat politik yang lebih kuat di Indonesia.
Media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) menyiapkan akses informasi untuk menjaga kesehatan demokrasi. Media memiliki kuasa mempengaruhi kesadaran politik khalayak untuk mengontrol ruang sosialnya. Kedahsyatan terpaan media ibarat tembakan peluru yang membuat audience terkesima dengan beragam fenomena politik. Apalagi peran politik secara psikologis dilakoni pula oleh aktor politik dengan kesadaran diri berada dalam sorotan media yang disaksikan oleh ribuan pasang mata.
Politik pun dirayakan kontestan pemilu di dalam media cetak, elektronik dan online untuk membangun citra dan popularitas dengan dana besar. Walaupun, mereka sangat menyadari kualitas hasil yang akan dicapai ditentukan oleh artikulasi kepentingan dan keberanian mereka untuk berhadapan langsung dan berkomunikasi dengan publik untuk menata hubungan yang lebih dekat. Pengaruh media sangat besar, namun tidak dapat mengalahkan hubungan yang bersifat antarpribadi. Kecuali publik telah mencapai puncak nalar berpolitik maka kontestan yang terpilih adalah mereka yang berani membangun kontrak politik dan memiliki kilas balik moralitas.
Nuansa politik dalam media kini jauh berbeda dengan zaman Orde Baru yang didominasi hanya satu partai dan satu tokoh yaitu Golkar dan Soeharto. Namun, wajah pragmatis di balik euforia politik dalam media tampak sama ketika menyaksikan jebakan demokrasi dalam pagelaran iklan politik para kandidat calon legislatif dan partai politik yang berwatak parokial hanya mengambil keuntungan di tengah rapuhnya tatanan politik. Hal ini masih disebabkan calon legislatif dan partai politik tidak memiliki visi dan basis ideologis yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan publik. Calon legislatif takut bersentuhan langsung dengan konstituennya dan partai politik miskin program karena didirikan hanya sebagai kuda pacuan popularitas oleh tokoh tertentu.
Kondisi politik semacam ini di mana pembaharuan hanya diungkapkan di permukaan dalam pandangan analis politik ABC News, Fareed Zakaria, hanya memungkinkan lahirnya demokrasi semu sebagai perulangan-perulangan dari wajah politik masa silam dalam karakter yang berbeda di beberapa belahan bumi seperti Rusia, Asia Tengah dan Amerika Latin. Partai lama dan tokoh lama masih sangat berperan besar dimana publik dihantui oleh doktrin otoriterisme mereka. Permainan politik mereka hanya sekedar merebut peluang melalui pengamanan akses menuju kuasa demi tujuan menyimpang yang tidak mengarah pada pematangan demokrasi, malahan menghancurkan demokrasi.
Banyak harapan ketika melihat spirit partisipasi publik mengalami kemajuan. Publik menjadi matang dan mampu membaca makna di balik dinamika politik. Sikap pragmatis publik yang muncul seperti demontrasi menolak pemilu 2009 di Papua adalah sebuah perlawanan terhadap praktik politik elit yang cenderung inkonsisten terhadap agenda publik yang pernah dijanjikan dalam pemilu sebelumnya. Publik pun berkat terpaan media bisa mengapresiasi pemilu dengan cara yang kritis untuk memilih atau tidak memilih karena pertimbangan konsistensi. Dengan demikian, pemilu 2009 ini harus benar-benar ditunjukkan sebagai momen kembali ke politik kepentingan publik (public interest).
Secara umum, tesis transisi politik bahwa proses politik berayun dari otoritarianisme menuju konsolidasi demokrasi (concolidated democracy) dalam kurun satu dasawarsa ini belum terbukti di Indonesia. Liberalisasi politik baru sebatas wacana media. Jika melihat politik secara detail dalam kehidupan nyata terlihat masih rapuh sebab pelaku politik kehilangan arah dan tujuan berpolitik. Politik dihadirkan secara individual dengan kualitas yang rendah dalam wajah money-politics dan diusung oleh partai pragmatis yang tidak mengenal wacana kepentingan publik dan masyarakat madani. Bahkan politik di Indonesia kehilangan kemuliaan dan berada di tubir Neo-Otoritarianisme.
Dalam perspektif Erving Goffman, wajah politik Indonesia dalam media ibarat teater yang dibatasi oleh panggung depan (front region) dan panggung belakang (back stage). Panggung depan adalah ruang merias diri agar tampak cantik dan cerdas, walaupun menor seperti Jeng Kelling. Panggung depan dikonstruksi sebagai ruang idealitas bahkan hiperrealitas agar terkesan hebat. Panggung depan mengikuti naskah politik yang ketat. Lain hal dengan panggung belakang, menjadi latar peran yang autentik-manusiawi. Kebanalan teater politik ini terletak dalam lakon di panggung depan jika aktornya adalah manusia yang orisinal kurang bemoral di panggung belakang.
Publik menginginkan keutuhan diri dan model komunikasi politik yang sederhana dalam media. Sebuah keberanian untuk tampil apa adanya (something real) dan berkomunikasi yang jujur tentang pesan-pesan perubahan yang diperjuangkan. Jamaknya, publik tidak mempunyai banyak rujukan kecuali nalar sederhana (common sense), opinion leader dan mainstream kebudayaan. Publik terbiasa melihat kemiskinan tentu akan sangat dekat dengan pesan kemiskinan pula.
Kontestan boleh mengemas pesan melalui media manapun, tetapi jangan sampai publik tidak memahami maksudnya. Di sinilah pentingnya marketing politik beradaptasi dengan pengetahuan publik untuk menggugah kepercayaan publik sekaligus edukasi agar mereka berpartisipasi dalam politik sebagai keniscayaan ketika ingin bersama membangun suatu tatanan masyarakat futuristik.
Kebingungan publik akibat over-komodifikasi politik menjelang pemilu dalam wajah iklan, poster, pamflet dan baliho harus diakhiri. Publik sangat resah dengan pesan-pesan emosional yang saling memojokkan di antara kontestan walau diniatkan sebagai smart campaign. Dekostruksi nilai politik yang berlebihan ternyata malah menghadirkan multipersepsi yang berujung miskonsepsi di tengah publik. Publik kehilangan patokan nilai yang sakral dalam melihat kompetisi politik yang saling menghitamkan.
Fenomena kuasa media menunjukkan bahwa politik hanya salah satu rubrik kecil dalam media. Maka media sebagai pengubah realitas (agent of reform) selayaknya mendesain demokrasi sejati dan merasionalkan beragam manuver politik. Demokrasi menuntut kedewasaan politik, namun demokrasi lebih menuntut lagi kedewasaan media dalam memainkan peran vitalnya sebagai supremasi publik untuk menjauhkan kemungkinan penyimpangan demokrasi dalam wajah otokrat terpilih, tirani mayoritas dan konflik horisontal.
Media akan mendesakkan ruang kepada identitas dan praktik politik yang memiliki kedalaman visi, etika dan estetika untuk mengafirmasi nalar komunikatif di tengah khalayak ramai. Media sangat menyadari bahwa dinamika politik di negeri ini tidak ahistoris, tetapi sebuah perjalanan panjang meniti jalan berliku menuju demokrasi yang lebih berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Media merekam dengan baik jejak langkah keberpihakan kontestan politik kepada rakyat.
Ketika kontestan keblinger memperdebatkan perilaku politik artifisial, misalnya polemik dua partai yang mengklaim diri paling berprestasi dan terkuat, maka media meluruskan nalar politik bahwa yang lebih substantif seharusnya partai politik tak kenal lelah dan ikhlas dalam melayani konstituennya. Pemilu hanya necessary condition yang memerlukan aksi nyata sejak dini dari partai-partai politik.
Media strategis mewakili publik untuk mendesain diskursus politik yang mengarah kepada substansi demokrasi. Media memiliki agenda publik yang membantu kelahiran tata kelola pemerintahan yang akuntabel dan transparan, kepemimpinan yang adil dan bermartabat, serta masyarakat madani yang kuat dan sehat.
Media adalah institusi masa depan publik yang menciptakan kesetaraan bukan perbudakan seperti zaman Orde Baru. Kesadaran media akan kuasa pengetahuannya harus dibarengi dengan penegakan kewarasan ruang publik. Media harus menjadi penentu untuk pendalaman dan perluasan ruang publik yang setara dan humanis. Sebab ketika media terdiam dengan peran ini maka niscaya ruang publik akan kembali berwatak kerdil, berpihak kepada establishment, termarjinalkan dan perlahan tumbuh rasionalitas mekanistik-pragmatis yang mempengaruhi arena politik.
Kuasa media mendorong publik untuk proaktif merespon wacana politik dan berperan sebagai kekuatan alternatif dalam melakukan counter hegemony, menentukan siapa yang memiliki kualitas dan kapasitas untuk diberi amanah politik. Publik harus belajar menghakimi kontestan pemilu sesuai dengan prestasi dan kepekaan mereka terhadap kepentingan publik. Inilah peran media bersama publik mencari alternative way out menuju Indonesia sejati di Pemilu 2009.
Staf Pengajar Program Studi Komunikasi FISIP Universitas Andalas
Disampaikan dalam Workshop Pendidikan Pemilu Badko HMI Sumbar, 25 Maret 2009 di kota Padang

City Skylines Gallery

National Geographic POD

Ada kesalahan di dalam gadget ini