<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566</id><updated>2012-01-18T10:47:35.539+07:00</updated><title type='text'>.</title><subtitle type='html'>Sedikit Kata-Hasrat Menuju Ada</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-920210572702646835</id><published>2012-01-18T10:41:00.002+07:00</published><updated>2012-01-18T10:45:10.541+07:00</updated><title type='text'>Kaum Muda Jepang dalam Seijin no Hi</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Opinion&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;OPINIATOR/ THE PHILOSOPHIA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kaum Muda Jepang dalam Seijin no Hi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;ByTHAUFAN MALAKA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Published:January 18, 2012&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menuliskankisah pemuda akan menghadirkan harapan revolusioner. Harapan yang aktifmenggeliat, seperti filosofi “becoming” dari Eric Fromm (pemikirkritis-humanis), yang menghadirkan dinamisasi rasa dan aksi manusia untukmencintai dan dicintai, menghargai dan dihargai, serta menyayangi dan disayangidi semesta raya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Tulisanini ingin memaparkan kisah haru-biru para pemuda di Jepang yang baru sajamelewati hari libur nasional di Jepang yaitu &lt;i&gt;Seijin no Hi&lt;/i&gt; pada Senin,09/01/2012. Di Jepang, lazimnya setiap Senin kedua di bulan Januari para pemudayang menginjak usia 20 tahun (&lt;i&gt;hatachi&lt;/i&gt;) akan berkumpul untuk merayakanhari libur &lt;i&gt;Seijin no Hi&lt;/i&gt; sebagai momentum menuju kedewasaan dankematangan hidup.&lt;br /&gt;Tak ayal di sekeliling kota di Jepang termasuk Tokyo, Yokohama, dan Nagoyaterlihat para pemuda dengan bangga beramai-ramai berjalan kaki mengenakanpakaian tradisional Jepang.&lt;br /&gt;Perempuan tampil cantik menawan menggunakan sejenis Kimono yang disebut &lt;i&gt;Furisode&lt;/i&gt;dipadukan dengan sandal Jepang yang dinamai &lt;i&gt;Zori&lt;/i&gt;, sedang pria memakaisejenis kimono gelap yang dikenal sebagai &lt;i&gt;Hakama&lt;/i&gt;. Namun sebagai buahdari kemodernan Jepang, banyak juga para pemuda pria yang memakai jas moderndipadukan dengan dasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Perayaan&lt;i&gt;Seijin no Hi&lt;/i&gt; ini dikenal sebagai Seijin-shiki ketika para pemuda yangtelah mengenakan pakaian tradisional Jepang berkumpul di pagi hari untukmendengar pidato formal dan sosialisasi tentang “cara menjalani masa muda” digedung pemerintah setempat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Momentumini juga menjadi tanda yang mengindikasikan bagi setiap pemuda Jepang bahwamereka telah boleh mengikuti Pemilu, meneguk minum-minuman keras, dan mengisaprokok di tempat yang diperbolehkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Parapemuda Jepang sangat menikmati perayaan ini dan terlihat riang-gembira. Merekamenjadikan perayaan ini sebagai saat tepat membangun resolusi di masa muda.Misalnya Miura, salah seorang di antara kerumunan gadis yang merayakan &lt;i&gt;Seijin-shiki&lt;/i&gt;,ketika ditanya tentang keinginannya di usia seperti ini, dia menjawab inginbekerja (&lt;i&gt;Shigoto&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Seijin-shiki&lt;/i&gt;dapat dilihat sebagai fenomena kebudayaan di Jepang ketika para pemudadiberikan ruang untuk berkontemplasi dalam suasana yang menyenangkan untukmenjadi pribadi yang rasional, disiplin, pekerja keras, dan mencintai tradisiJepang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Walaupun,mereka cenderung terlihat hedonistis dengan berdandan mewah danbersenang-senang, namun sesungguhnya keceriaan mereka dalam perayaan &lt;i&gt;Seijin-shiki&lt;/i&gt;merepresentasikan performance ekonomi Jepang yang berkilau, yang memberikanmereka keleluasaan dan kesenangan untuk melukis mimpi dan imajinasi masa depandalam meraih kehidupan yang lebih baik. Sebab mereka adalah generasi mudaJepang yang memiliki akses ekonomi yang luas dan akan menjadi generasiproduktif, pekerja keras, andal, dan profesional untuk membangun negeri Sakura.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Imajinasimasa depan kaum muda di Jepang dapat dilihat dari fakta bahwa negara majudengan usia produktif (15-64 tahun) yang cenderung menurun 1,02% (844.000 orang) pada 2009 adalah salah satu negara termakmur dengan perekonomian terbesar diperingkat ke-2 dunia setelah Amerika Serikat, dengan pencapaian PDB Nominalsekitar US$ 4,5 triliun dan perekonomian terbesar ke-3 dunia setelah AS dan RRCdalam keseimbangan kemampuan berbelanja di 2008.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Jepangjuga memiliki standar hidup yang tinggi di peringkat ke-8 dalam IndeksPembangunan Manusia dan upah kerja per jam tertinggi di dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Bagaimanadengan di Indonesia? Di Indonesia, para pemuda cenderung didefinisikan secaraideologis dan tunduk pada kekuasaan politis. Secara ideologis, pemuda Indonesiaditerjemahkan hanya secara historis sebagai peletak dan penggerak revolusikemerdekaan, ketika mereka berkumpul dari berbagai pulau di nusantara danbersumpah setia pada 28 Oktober 1928 untuk bertanah air, berbangsa danberbahasa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Walaupunimajinasi pemuda Indonesia diperbaharui setiap tanggal 28 Oktober sebagai hariSumpah Pemuda, tetapi peran mereka di masa sekarang hilang dan hanya sebagaikomoditas politik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Disorientasi para pemuda Indonesia yang cenderung hedonistis dan akhirnyaapatis dengan arah bangsa disebabkan oleh pelemahan karakter pemuda olehkenaifan struktur kekuasaan dan kebijakan politis. Alih-alih memperjelas danmembangun karakter pemuda dengan penalaran yang jernih serta akses yang baikdan merata, status konstitusional saja menjadi problematik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;DalamUndang-Undang Nomor 40/2009 tentang kepemudaan jelas mengartikan pemuda mulaiusia 16 hingga 30 tahun, namun dalam UU Nomor 23/3003 tentang Perlindungan anakmenyatakan usia di bawah 18 tahun masih dikategorikan anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Celakanya,UU Pemilu malah menyeruduk dengan mengikutkan usia 17 tahun dalam Pemilu tanpaada kejelasan apakah di usia itu masih anak-anak atau telah menjadi pemuda. Halini bukan hanya harus diperjelas demi keadilan tetapi juga karena masa mudaharus disadari dengan penuh tanggung jawab dan bukan komoditas politik sehinggamenjadi karakter pemuda Indonesia. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Lebihjauh, sudah seharusnya pemuda didefinisikan berdasarkan kehendak zaman mereka,keberlanjutan sejarah, dan peran mereka dalam orientasi hidup yang jelas.Negara pun selayaknya telah menyediakan akses ekonomi yang luas agar menjadiimajinasi ruang kreativitas dan profesionalitas mereka kelak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Mungkindengan cara ini, hari Sumpah Pemuda akan dirayakan pemuda Indonesia lebihbermakna seperti imajinasi Kaum Muda Jepang dalam Seijin no Hi sebagai titikkembali menjadi rasional, disiplin, pekerja keras, dan mencintai tradisi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-920210572702646835?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/920210572702646835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=920210572702646835&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/920210572702646835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/920210572702646835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2012/01/kaum-muda-jepang-dalam-seijin-no-hi.html' title='Kaum Muda Jepang dalam Seijin no Hi'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-7962403045120214317</id><published>2012-01-04T22:07:00.004+07:00</published><updated>2012-01-18T10:44:01.297+07:00</updated><title type='text'>Siapa Syiah ?</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Opinion&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;OPINIATOR/ THE PHILOSOPHIA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Siapa Syiah ?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;ByTHAUFAN MALAKA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Published:January 05, 2012&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tulisansingkat ini ditulis untuk menengahi mispersepsi berujung konflik antaraSyiah-Sunni di Madura baru-baru ini yang kami baca melalui media online. Jugasebagai rasa cemburu dengan kedamaian di Jepang, sebuah negara yangmemperlakukan agama hanya sebagai moral dan budaya saja, tetapi damai dansejahtera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tak perlutakut dengan Syiah dan jika anda punya waktu, sebaiknya baca referensi Syiahyang benar. Siapa Syiah ? Saya sesungguhnya bukan manusia yang tepat untukmenjelaskan Syiah sebab saya lahir dan belajar Islam sejak kecil dalam tradisiSyafii berteologi Asyari-Maturidi. Namun, sebagai wartawan filsafat, sayaterpanggil untuk memberitakan dan mewacanakan Syiah, sejauh ingatan saya,sebagai korban di Madura. Syiah lebih lazim dikenal sebagai &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;Ahlulbait&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; mengacu kepadaSupremasi Keluarga Rasulullah Muhammad SAAW yang meyakini Islam dari perspektifTauhid, Keadilan Allah, Kenabian, Kepemimpinan dan Hari Akhir. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sejatinya,Syiah hanyalah perspektif dalam mengenali kejernihan Islam di antara beberapaperspektif lain misalnya 6 mazhab lain yaitu Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi,Ibadi, dan Zahiri yang diendors dalam &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;DeklarasiAmman (The Amman Message)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp; oleh pemimpin mazhab dan politik dariberbagai belahan bumi. Namun, politisasi agama dan kejumudan berfikir dalammenganut Islam memantik cara ber-Islam yang biadab dan emosional sehinggamenjadikan penganut Syiah sebagai korban kekerasan massa yang belum tentumeyakini apa yang mereka telah perbuat kepada sesamanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pandangankami hanya dangkal sebagai pembaca beberapa literatur asli Syiah dan pernahberdialog dengan salah seorang penganut Syiah dari Iran. &amp;nbsp;Syiah adalah perspektif Islam yang dinamis,rasional dan politis. Dinamis dalam arti Syiah masih membuka pintu Ijtihad(bagi yang berhak berijtihad) dan sangat ketat dalam memegang prinsip FikihIslam. Dinamika ini membuat Syiah mampu melahirkan pakar-pakar Islam dari modelpendidikan unik-tradisional-modern di berbagai bidang misalnya Filsafat,Teologi, Fikih, Hadis, dan Tafsir di zaman sekarang. Silakan anda berkunjung kesalah satu kota bernama Qom di Iran maka anda akan mendapatkan ratusan bahkanmungkin ribuan pakar dan calon pakar di bidang keilmuan Islam.&amp;nbsp;RevolusiIslam di Iran oleh Pemimpin Kharismatik Ayatullah Ruhullah Khomeini hanyalahmemantapkan Syiah di pentas politik modern, tetapi tradisi keilmuan Syiah sudahterbangun sejak berabad-abad yang silam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Rasional artinyaSyiah dalam memahami Islam sangat memuliakan akal sebagaimana akal dalamperspektif para filsuf Islam misalnya Alkindi, Alfarabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sinadi mana akal adalah cahaya yang menerangi kegelapan. Sebagai misal, Syiah dalammemahami hukum Islam di zaman modern, para ahli hukum Islamnya yang dikenalsebagai Marja'&amp;nbsp; menetapkan hukum secara rasional didasarkan Ilmu Keislamanyang luas yang dipelajarinya hampir di sepanjang hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Politismaksudnya Syiah sangat menyadari nalar sejarah manusia sebagai pentas politikantara Kebenaran &lt;i&gt;(Alhaq)&lt;/i&gt; versus Kebatilan &lt;i&gt;(Albatil)&lt;/i&gt; sehinggapenganut Syiah memperjelas posisi Ke-Islamannya di pihak kebenaran untukmelawan Kebatilan dan variannya. Dalam tiga dimensi ini, Syiah akan diterimaoleh manusia hanif manapun dari perspektif Islam apapun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Lha,kenapa Syiah di Indonesia dibenci dan dianggap sesat bahkan di Madura baru-baruini salah satu pesantren Syiah dibakar ? Pertanyaan ini bisa dijawab begini: &lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt;Syiah itu punya nalar yang dinamis yang berbeda dengan nalar kebanyakanmuslim Indonesia yang beraliran fikih syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi. Jikaada muslim Syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi yang reformis-kritis berartimereka generasi protestan muslim di Indonesia. Mereka boleh jadi membacaFilsafat Barat ala Marx-Foucault, menelaah pemikiran Islam kontemporer ala AbidAl Jabiri, Arkoun, Hassan Hanafi dll, atau bergabung dengan Gerakan IslamInternasional misalnya &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;Ikhwanulmuslimin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang menjelmakan &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;PKS/KAMMI &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;atau&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;Hizbuttahrir&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, Syiahitu Rasional yang meninjau ulang asumsi-asumsi kebenaran teori Ke-Islaman.Asumsi ini pula meniscayakan Syiah menjadikan Keluarga Nabi (Ahlulbait) sebagaipemegang titah Islam absolut. Tentu saja,&amp;nbsp; Islam itu Kebanaran yangAbsolut secara doktrinal tetapi cara memahami Islam sangat relatif bagi muslimumumnya sehingga meniscayakan adanya &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;Nabi(Kenabian) &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan adanya &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;PemimpinSuci (Imamah)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; untuk menjelaskan absolutisme Islam. Misalnya kebenaranIslam yang sejati harus diterima dari tangan yang suci sebab jika diterima daritangan yang munafik walaupun hanya sebesar zarrah maka kebenaran Islamdiragukan. &lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;Syiah itu politis sehingga setiap kebatilan dalamsemua wajahnya, apakah dalam bentuk manusia atau cara pandang yang zalim akanmenjadi musuhnya. Simbol tertinggi politik Syiah adalah &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;Kesyahidan Imam Hussein &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Cucu Nabi anak Ali-Fatimah yangmenjadi Imam ke-4 dalam perspektif Syiah) yang menjemput kematiannya untukmenegakkan kebenaran hakiki dalam politik di sepanjang sejarah manusia di mukabumi. &lt;i&gt;Keempat, &lt;/i&gt;Konflik Syiah-Sunni di Indonesia bisa dijelaskan sebagaikompetisi ekonomi-politik untuk memperebutkan supremasi simbol, sumber dayapolitik dan ekonomi. Jadi, isu kebenaran itu nomor dua. Tak lebih tak kurang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Akhirnya,mari kita menjaga silaturahim perspektif Ke-Islaman. Tak usah resah denganperspektif Islam yang beragam, justru itu adalah kekuatan Islam sebagai mataair pengetahuan dan kebijaksanaan hidup. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ditulis di Jepang 05 Januari 2012&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-7962403045120214317?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/7962403045120214317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=7962403045120214317&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7962403045120214317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7962403045120214317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2012/01/siapa-syiah.html' title='Siapa Syiah ?'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-8876253375299960937</id><published>2012-01-03T00:02:00.002+07:00</published><updated>2012-01-18T10:46:16.477+07:00</updated><title type='text'>On Ideas of Progress in 2012</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Opinion&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;OPINIATOR/ THE PHILOSOPHIA&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;On Ideas of Progress&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;ByTHAUFAN MALAKA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Published:January 03, 2012&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Ihave got an inspiration just for me specially, but if people would like to readit, japanese said “daijoubu desu”. Its about goodness, happiness, and progressin our lives. I woud like to consider the school of thought in religionincluding Islam. I would like to say something amazing in my mind in this year,2012, that we need to reform our perspective in believing Islamic school ofthought. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;OurIslamic perspective must be spirit of individual and social progress, that,swhy we need to think it over some ideas. Firstly, we need to consider the ideasof progress supremely as reference of Islamic school of thought. Maybesomething like progress ideas and spirit of Protestanic Ethics in the west, ormorality and culture of Japanese religion in Japan and Rationalism of Syiah Ja’fariin building Republic of Islam Iran. Secondly, the essences of all religions aregoodness and happiness in bringing human’s life into progress therefore pleaseconsider those principles in doing everyday life and living together in society.&amp;nbsp;Thirdly, the supremacy of all schools ofthought is Akhlaq-politics which based on Tauhid-Politics perspective called &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;BeyondTrancendent Theoshopy &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;which tends to aestheticizing human’s relations, alsoprogressing and guiding human’s life.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Thus,welcome to my ideas of progress in everydaylife and living full of &amp;nbsp;happiness and goodness together in society.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;DomoArigatou Gozaimasu &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-8876253375299960937?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/8876253375299960937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=8876253375299960937&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/8876253375299960937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/8876253375299960937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2012/01/on-ideas-of-progress-in-2012.html' title='On Ideas of Progress in 2012'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-6112477710206196571</id><published>2012-01-01T13:03:00.002+07:00</published><updated>2012-01-04T22:09:59.366+07:00</updated><title type='text'>A Happy New Year 2012 and Our Unborn Child</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Opinion&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;OPINIATOR / THE PHILOSOPHIA&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;A Happy New Year and Our Unborn Child&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;By THAUFAN MALAKA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Published: January 01, 2012 &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;I have an incredible story with my wifeand my unborn child. Last night we have celebrated a Happy New Year 2012 at TheYokohama Landmark Tower, Minatomirai Yokohama Japan. It was a cool pleasantplace to go called Sky Garden. From the top of the tower, we could seespectacular view.&amp;nbsp; We coudnt imagine and tell it anymore. It was reallyunimaginable, unthinkable thing. We could see whole Yokohama city from the thehighest building in Japan, The Yokohama Landmark Tower, which constitutedaround 295.8 meters. It was unforgettable experience. We,d like to recommendyou who will visit Yokohama in order to go there in the night and see themiracle of human civilization. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;There was a funny thing that happenned tous last night. When we would like to take a picture in the highest floor calledsky garden, our unborn child would like to join us. It seemed like unbelievablething but that’s true, our unborn child didn’t want to be left behind us.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Lastly, in this new year &amp;nbsp;2012, wewould like to empower our social media for Revolution like Arabspring orRevolution started from the bed effectively and certainly, we just want to prayfor our family and for our lovely unborn baby all the best in the future andour safeness in Japan. Amien Ya Arhamarrahimien. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Japan,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;...when eartquake 7.0 magnitude just happened in newyear 2012&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-6112477710206196571?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/6112477710206196571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=6112477710206196571&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6112477710206196571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6112477710206196571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2012/01/happy-new-year-2012-and-our-unborn.html' title='A Happy New Year 2012 and Our Unborn Child'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-3231574737617736532</id><published>2011-12-30T06:53:00.001+07:00</published><updated>2012-01-03T10:27:48.455+07:00</updated><title type='text'>My Simple Journal in Japan</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Opinion&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;OPINIATOR / THE PHILOSOPHIA&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;My Simple Journal in Japan&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;By THAUFAN MALAKA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Published: December 30, 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;August 10&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;This is my journal. I’d like to study inJapan and focus on international communication and the process ofglobalisation. I’ve prepared myself since two years ago. On this August 10&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;2011.…I will come to Japan with my beloved, my shinta. Japan…. here we are….Icant believe it&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;August 11&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;In the context of Japan Culture: Didsocial class influence meaning ? On personal interpretation on booker studentin Japan. How police and socialist get the point? Thanks my love.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;In air traffic, so many cultures willmeet in the airport. No verbal communicaton, but doing non verbalcommunication. The next research, comrade….&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;August 12&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; August&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;I just arrived in Japan with my beloved.Today I,ve seen progress in a developed country. I just see the social orderand management of the city. I can see my life here studying internationalcommunication at Nagoya university.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;August 13&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;This is my second day in YokohamaJapan.&amp;nbsp; My eternal beloved has contacted a friend at Nagoya and maked mekeeping in touch with a GSID Student. I will go to Nagoya Universit to meet aprofessor there. My alternative is Tsukuba University, I have sent email to aprofessor and I wish that he will reply my email soon. Thanks my Allah and mywife….&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;August 14&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Yesterday. I have walked around with mybeloved in Yokohama City. We,ve gone to landmark of Yokohama in MinatomiraiSakuragicho. We,ve gone by train, breaking our fasting by sushi, going to seaand seeing Nippon Maru Ship. How wonderful jouney and crowded city.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;August 15&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ohayoo gozaimasu, atsui desu ne&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ! We like morning in Yokohama. We lookand run around our &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Apato. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;My wife ride bycycle and I am jogging. I see wonderfulmorning and beautiful house in small performance…&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;August 16&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;In this date, I have visited manylandmark in Tokyo. My wife has called me to Shibuya to see Hachiko Statue andenjoyed sunset at Tokyo Tower. I am tired but that’s great. Thanks my wife&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;August 17&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;I am listening president SBY’s speech.SBY has idealism in encouraging progress in Indonesia. Eventhough, it is reallyfunny and quite dissapointing due to so far from facts. He is leader who fullof hope but he is in crisis management.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;18&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; september 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Halo. It seems like very long time notwrite in this journal. So I need to flashback untill today systematically. 18thAugust I celebrate Indonesian Independence day at Nagoya with Indonesia StudentAssociation. I have registered as a participant in entrance examination atNagoya University by supporting Mr. Irfan. Then, I will go to Gifu for meetingbro Aan until 21th August. Finally, I came back to Yokohama again to stay withmy wife and will prepare for Idul Fitry 30th and 31th August 2011 where at theday we go to Indonesian Embassy at Tokyo for Indonesian gathering.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;1&lt;sup&gt;st&lt;/sup&gt; -12&lt;sup&gt;th &lt;/sup&gt;September&amp;nbsp;I prepare myself for entrance exam for Nagoya University. On 12&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;sept in the night, I am going to Nagoya, 13&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; I am checking my seatfor test,&amp;nbsp; 14&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; I am in writing test: Foreign Language test inthe morning about Promoting Quality of Life by Supplying Nutritions to Modernand Traditional People, and about Soft Skill For Development In The DevelopingCountry Especially In Sub-Saharan Africa. 15&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; I am making interviewwith 3 profossers where I am proving that I deserve to be student at NagoyaUniversity to do research on The Role Of Local Media In Developing LocalSociety In West Sumatra By Etnographic Perspective. I will see the effect ofexistence of local media to participation of local society to promote theircultural identity and interest because of the recent research by Rajesh Dasfrom Universit of Burnward Bengali India who find that there is positivecorrelation between the entity of local media especially community radio inhelping local society. But, I,ve observed a problem in Indonesia&amp;nbsp;&amp;nbsp;where media just become channel of entertainment rather thanempowerment&amp;nbsp; channel. This problem was caused by two level ; media andsociety. At media level, I see media were influenced by economic and politicalinterest. And at local society level, I find that local society still perceivemedia as just for entertainment channel and local society has problem technicalknow-how due to lack of accesibility to media. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Actually, today 18&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; septemberafter going home with may lovely wife and my lovely child candidate,&amp;nbsp; I,mhoping to Allah for better life. I wish that I can pass&amp;nbsp; test and becomeStudent of Nagoya Daigaku. Maybe, I love Japan and I hope in this year I can improvemy capacity in studying &amp;nbsp;International development, internationalcommunication and development communication at &amp;nbsp;Nagoya universityJapan.&amp;nbsp; Vini Vidi Vici….&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Korekara ganbarimasu no de yoroshiku onegaishimasu.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Saturday 15&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; October 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;This is note in advance. Actually, thereare many issues I have to tell it before and I will do it in other time. I amimpressed with Sutan Syahir who understand life and true revolution. He arguedbased on philosophy and ocean of knnowledge. He was very humanist in whole ofhis life. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;When he discussed on &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;In The Shadoven Van Morgen By Huizinga&lt;/b&gt; he critizied Huizinge whoignore humanity and true moral philosophy. For Syahrir, huizinga hasnarrow-mind and his point of view can not be used as a way to hold humanity.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;The greatnees of Syahrir because hedidn’t take by granted Huizinga,s assumstion 1. Cultural is balancing spiritualand material, 2. In cultural fighting aims to save human being 3. Human beingmust see Humanes and nature completely.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;In my mind, syahrir recommended Huizingaread Kant’s moral philosophy included the cayegorical impertive issues in orderunderstand moral, Humanity and God at once &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;17&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Oct 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sometimes I,d like to be Sjahrir who readmany books.&amp;nbsp; Alhamdulilllah, during 2 week I have read several book oneconomics, politics, sosial and law and of course communication studies. One ofthem I like very much “Renungan dan Perjuangan Sutan Sjahrir”.&amp;nbsp; It’sinspiring&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;In the night&amp;nbsp; I,vegot informationthat I got my scholarship to study at Nagoya University. Thanks Allah andMuhammad Wa Alihi, Thanks my wife and our child. I promised I will do my bestfor better human life.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;9&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Nove 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;O Allah and Muhammad waalihi, please makeyour servant stronger and better fight for freedom, truth and humanity….AamienYa Arhamarrahimiin &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;28&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; December 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;In the end of 2011, I will try to writeagain about my journal, my everyday life. &amp;nbsp;All praise be to Allah, I havebeen in Japan again after dealing with my scholarship in Indonesia on Octoberand November 2011. I am with my great wife in Japan, for this time learningHiragana and Katakana. &amp;nbsp;I must ready for the next steps toward better lifeand future. We are waiting for our lovely baby in Japan. O Allah make it easyand full of love when everything is going to happen.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-3231574737617736532?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/3231574737617736532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=3231574737617736532&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/3231574737617736532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/3231574737617736532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2011/12/my-simple-journal-in-japan.html' title='My Simple Journal in Japan'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-7420653085748232501</id><published>2011-12-29T21:42:00.000+07:00</published><updated>2012-01-03T10:28:20.831+07:00</updated><title type='text'>Reportase Keindahan Jepang 1</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Subjective Report&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;REPORTER / THE PHILOSOPHIA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mengabarkan Keindahan Jepang 1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;(Catatan Kecil Kisah Studi)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;By THAUFAN MALAKA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Published: December 29, 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Tabi no haji wa kakisute (Pepatah Jepang)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Jepang semisal gadis elok menyimpan senyum manis-misteriusyang dipersembahkan kepada pria mabuk asmara.&amp;nbsp;Jepang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;(&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Nippon-koku atau Nihon-koku&lt;/b&gt;),&lt;/i&gt; sebuah negara maju yang berdirisejak 11 Februari 660 SM dengan kepadatan penduduk 127.530.000 di peringkatke-10 dunia dan terletak di kawasan Asia Timur yang menyatukan keindahan alamdan kecerdasan manusia. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sejarahnya panjang mengagumkan dengan &amp;nbsp;Supremasi Kekaisaran dari Era Klasik hinggaPostmodern. Dialektika kekuasaan antara Kekaisaran versus Shogun-Militer,terutama pasca era keemasan Oda Nobunaga, Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu, melahirkanera Restorasi Meiji (1868-1912) dengan revolusi sistem ekonomi KapitalismePasar Bebas ala Inggris dan Amerika Serikat menjadi titik awal renaisans Jepang,ditambah berkah era &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Keajaiban Ekonomi Jepang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1960-1980) telah membawa negeri Sakuraini sebagai salah satu negara termakmur dengan perekonomian terbesar diperingkat ke-2 dunia setelah Amerika Serikat, dengan pencapaian PDB Nominalsekitar &amp;nbsp;AS$ 4,5 Triliun dan perekonomianterbesar ke-3 dunia setelah AS dan RRC dalam keseimbangan kemampuan berbelanja di2008. Sebagai negara maju Jepang memiliki standar hidup yang tinggi diperingkat ke-8 dalam Indeks Pembangunan Manusia, upah kerja perjam tertinggidan angka harapan hidup tertinggi di dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Alamnya memiliki musim-musim yang menakjubkan; &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;summer,autumn, winter &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; spring&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&amp;nbsp; Pada musim panas, udara tentu saja agak panastapi yang pasti segala jenis busana di sekeliling akan terlihat minimalis-estetis.Pada musim gugur, pepohonan akan banyak terlihat berwarna keemasan menjelangrontok. Indah nian berfoto bersama keluarga di bawah pepohonan itu. Musim inimenjadi moment transisi menuju musim dingin. Di musim dingin, udara terasahingga ke tulang dan di mana-mana semua orang mengenakan jaket tebal. Dan padamusim semi, pohon sakura akan bersemi indah hingga berkesan tak hanya di matatapi juga di hati. Musim ini dinantikan oleh semua orang yang tinggal diJepang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Manusia Jepang dari perspektif saya bisa dikenali sebagaisejenis manusia unik, lincah, ramping, menyukai jalan kaki, dan sangat sopan.Ini kesan singkat melihat manusia Jepang secara individual. Di lain sisi, jikamelihat mereka secara sosial, mereka manusia-manusia sibuk, cepat dan sedikit hening.Apalagi ketika melihat lingkungan tempat tinggal mereka, dijamin yang terdengarhanya suara keheningan dan keteduhan di sepanjang hari. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Jika melihat negara mereka, lebih canggih lagi.Semua teratur-minimalis, fasilitas publik nyaman dan serba mesin bernuansa komunikasi-informatif.Mereka sejenis &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Silent Majority &lt;/i&gt;versiBaudrillard. Akhirnya, Jepang jauh meninggalkan negara Asia lainnya. Mungkintermasuk Indonesia, negeri kita tercinta. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Japan, …WhenI am an idiot…&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-7420653085748232501?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/7420653085748232501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=7420653085748232501&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7420653085748232501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7420653085748232501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2011/12/reportase-keindahan-jepang.html' title='Reportase Keindahan Jepang 1'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-8146350872552733253</id><published>2011-12-29T21:38:00.000+07:00</published><updated>2011-12-29T21:38:08.644+07:00</updated><title type='text'>Cerpen: Bengkel Ketujuh</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:WordDocument&gt;  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;  &lt;w:TrackMoves/&gt;  &lt;w:TrackFormatting/&gt;  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;  &lt;w:Compatibility&gt;   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;   &lt;w:CachedColBalance/&gt;  &lt;/w:Compatibility&gt;  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;m:mathPr&gt;   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;   &lt;m:dispDef/&gt;   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;&lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Rabu sore pukul 17.15burung-burung mungil berkicau merdu di dahan-dahan pohon Cherry sebuah rumahkontrakan, di pinggir kampus Universitas Viktoria Padang. Stefan, Fetriks danAli sedang mendialogkan hidup di ruang tamu. Pukul 17.16 lamat-lamat Stefanmerasa berpuluh-puluh burung Merpati hinggap di atap. Rumah berderik kecil danmulai bergetar eskalatif per detik. Stefan refleks keluar ke halaman rumah danmenatap langit. Ia penuh risau menyaksikan dinding-dinding rumah dan gedungkampus dari beton retak terburai. Pepohonan tua melambai seolah ditiup topanKatrina. Ia berdoa dalam hati. ”Ya Allah Yang Maha Besar, semoga ini belumkiamat. Rasanya pepohonan dan gedung-gedung hendak berterbangan menimpa kami.”Stefan bermain dengan imajinasi psikologisnya.&lt;br /&gt;Gempa bumi terasa lebih lama dalam cemas Stefan. Gempa perlahan berhenti.Fetriks dengan cepat menelpon kekasihnya. Namun tak ada jaringan. Dia kali inigalau. Ia pun bergegas menancap gas motor menuju rumahnya. Sedang Ali tertundukdan berkata, ”semoga keluarga ambo di Padang Panjang selamat.” Stefan terdiammendengar pinta Ali. Stefan menata kesadaran atas peristiwa barusan yang mengguncangkemanusiaannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;5 jam setelah gempa...Malamdingin di pukul 22.00 membuat perut Stefan dan York lebih cepat keroncongan.Mereka pun bergegas menembus gerimis hujan mencari warung nasi. Walau lampumati, malam sangat ramai tak seperti biasanya. Mobil-mobil diparkir di pinggirjalan, tenda-tenda kecil menghiasi depan rumah dan orang-orang banyak mengobroldi jalan-jalan. Setelah menerobos gelap malam, mereka dapati satu-satunyawarung nasi yang buka dengan penerangan lampu genzet. York berkata, ”warungpenuh sesak pengunjung Fan.” Stefan menimpali, ”Ga ada tempat lain York.”Mereka kemudian masuk dan memesan menu rendang, ikan bakar dan ditambah jusmangga. Menu yang enak tapi hambar di lidah mereka yang diliputi sisa ketakutankecil pasca gempa sore tadi.&lt;br /&gt;Setelah mereka selesai makan, hujan makin lebat. Mereka menambah topikpembicaraan seputar gempa yang mencekam. ”Fan liat ga bukit longsor di seberangkampus?” tanya York. ”Mataku tak jelas melihat kejauhan di senja hari York,”jawab Stefan. ”Tapi Aku tahu dengan instingku, gempa bumi sekuat sore tadipasti meruntuhkan gunung-gunung rawan dan infrastruktur tua di kota Padang,”tambah Stefan. York kembali berucap, ”dari zona helypad kampus terlihat soretadi kota Padang berasap tebal. Pasti ada kebakaran juga.” ”Iya York,” jawabStefan seraya berdiri membayar kasir. Mereka berdua beranjak ke motor. Di luarperkiraan, hujan makin lebat. Mereka sepakat berteduh bersama orang-orang yangjuga menunggu hujan reda. Karakter hujan tak menentu. Kadang gerimis, laluhujan keras dan gerimis lagi. Mungkin hujan adalah isyarat kesedihan langitterhadap puluhan bahkan ratusan korban akibat gempa yang dahsyatmeluluhlantakkan kota Padang. Tak berapa lama hujan mereda. Mereka beranjak kearah kampus lagi menjauh dari pusat keramaian manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;2 hari kemudian setelah gempa..Terikmentari siang kota Padang menyinari proses evakuasi korban-korban yang terjebakdi hotel-hotel megah berbintang lima, lembaga-lembaga bimbingan belajar danbangunan-bangunan tua di Pasar Sentral. Program Breaking News stasiun televisibenar-benar mengaduk perasaan. Stefan dan Dicky berkeliling di jantung kotaPadang. Stefan melihat gereja retak, masjid ambruk, dan toko-toko rata dengantanah. Stefan menancapkan matanya pada setiap sudut kota yang remuk. Gempaberkekuatan 7,9 Skala Richter menyisakan kesedihan mendalam dan keindahan yangterkoyak di bumi Andalas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Di sebuah tikungan jalan menujupendopo kota, Stefan melihat tiga wartawan meliput sebuah bangunan yang hancur.Dua wartawan keluar dari lokasi bencana dengan mengulum senyum dan yangterakhir, terlihat menahan tangis. Stefan mengenal wartawan itu. ”Bang Okkan,apa kabar,” seru Stefan. ”Hai Fan, baik. Ente tinggal di sini Bro. Aku liputankhusus bencana. Besok kita ketemu lagi.” jawabnya terburu-buru. ”Kota Padangbenar-benar menjadi tempat para wartawan membeli berita di antara pergulatanoptimisme dan pesimisme korban-korban,” gumam Stefan melihat sahabatnya pergi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;7 jam setelah gempa...MotorStefan dan York melaju dengan kecepatan standar ke arah kampus melewati PasarAntik. Di kanan-kiri terlihat penerangan obor dan terdengar raungan genzet darirumah penduduk. Mereka melihat wajah-wajah penuh ketakutan masih bertahan diluar rumah. Suasana kota Padang dan sekitarnya serasa pasca perang. Seolahkolonialis telah menjatuhkan bom atom sehingga rumah-rumah tak berbentuk lagi.Motor mereka melaju hingga menanjak tepat di sebuah pertigaan rumah makan.Tiba-tiba motor melaju miring. ”Ada apa York” tanya Stefan. ”Ban motor kitapecah Fan,” jawabnya. Stefan pun turun dari sadel dan berkata pelan, ”hujan,gelap gulita dan harus mendorong motor menyusuri jalan mencari bengkel tempelban tepat di pukul 24.00 malam. Apa masih ada yang praktek?” York tersenyummenjawab, ”Semoga harapan tak pernah mati Fan.” Stefan terdiam. Sebenarnya, lelahStefan tak bisa lagi ditahannya dan ingin segera tiba di rumah. Tapi Ia takmungkin membiarkan York jalan sendiri mencari bengkel.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Mereka pun mulai mendorong motor.York memegang setir dan Stefan mendorong bokong motor. Meraka perlahan membelahmalam dengan kibasan-kibasan angin menumbuk wajah. Mata mereka mencari tempelban di sisi kanan dan kiri jalan di tengah kecamuk keraguan dan harapan. Gayungtersambut, Wulan pun tiba. Tak berapa lama, mereka menemui sebuah plangbertuliskan tempel ban. ”York, ada bengkel tempel ban,” seru Stefan kegirangan.Mereka melihat sebuah gubuk yang beralih fungsi menjadi bengkel tempel banseadanya. Mereka mendekati gubuk itu dan melihat hanya cahaya dian tersembuldari dalam. ”Tok...tok...tok,” pintu diketuk York. Seorang Ibu terbangunmembuka pintu. ”Bisa tempel ban Bu,” tanya York lembut. Ibu itu menjawab,”maafNak, nda ada doh lampu.” York pun memelas , ”Tolong lah Bu. Kami mambana kini.”Ibu itu mengulangi ucapnya, ”Maaf Nak, nda ada doh lampu. Jawaban terakhir yangsama membuat mereka kembali mendorong motor berdua. Malam makin larut dan hujanmasih gerimis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Mereka mendorong motor lebihcepat ke arah Pasar Baru. Mereka harap areal ramai ada bengkel 24 Jam.Perjalanan mereka sejauh satu kilometer pun akhirnya menemukan kembali sebuahplang tempel ban di sisi kanan jalan. Motor diparkir di dekat Stefan dan Yorkcekatan menyeberang jalan menuju bengkel. Dari jauh Stefan memperhatikan Yorkmelobi si empunya bengkel. York membalikkan tubuh ke arah Stefan. York denganwajah menunduk menemui Stefan. ”Gimana York?” tanya Stefan. ”Gak bisa Fan,”jawabnya pelan. Tak ada lagi kata yang muncul di antara mereka. Merekasama-sama tahu. Alasannya pasti tak jauh berbeda dari bengkel pertama. Merekakembali menyusuri jalan dengan gontai. Kaki-kaki mereka mulai terasa pegal ditengah gerimis membasahi. Tempel ban ketiga mereka lewati hanya dengan instingpasti bengkel ini tidak bisa membantu. Barulah tempel ban keempat, York merasabengkel ini yang akan membantu. Bengkel ini adalah bengkel langganansahabat-sahabat kampusnya. York mendorong motor ke dalam lorong menuju bengkelitu. Stefan terduduk di sebuah kursi melepas risau dan penat. York bertemudengan pria pemilik bengkel. ”Apa bisa tempel ban pak?” tanya York. ”Maaf, ndabisa adiak. Nda ado doh alat,” jawabnya. Stefan tersentak dari kursi mendengarjawaban pemilik bengkel. ”Tolonglah Pak,” pinta York. ”Nda bisa adiak, Nda adodoh alat, jawabnya lagi. Tepat di bengkel inilah kepasrahan York dan Stefanmemuncak dan mulai duduk lebih lama. Malam makin larut dan dingin menusuktulang. Gerimis tak lelah menumpahkan airnya. Stefan merapatkan mata sekejap.Tanpa suara lagi di antara mereka. York dan Stefan tertidur di kursi beberapalama.&lt;br /&gt;Rasanya malam ini teramat panjang bagi mereka. Gerimis mereda, mereka terbangundan melanjutkan perjalanan. Sebenarnya, sempat terpikir oleh Stefan memarkirmotor dan mencari Masjid yang masih utuh untuk beristirahat mengingat malamtelah larut. Tapi, entah apa yang merasuk ke dalam pikiran mereka sehingga masihmendorong motor. Padahal perjalanan yang mereka telah tempuh mencapai kuranglebih tiga kilometer. ”Apakah akan ditambah lagi berkilo-kilo meter,” gumamStefan. Dalam perjalanan, mereka berdiskusi. ”Jangan-jangan ada konspirasitempel ban York,” tanya Stefan. York berkata,” Boleh jadi Fan. Seharusnya walaupasca gempa mereka harus tanggung jawab.”&lt;br /&gt;Mereka mendorong motor dan menemui lagi satu bengkel tempel ban yang berjarakjauh dari sisi kiri jalan. ”Mudah-mudahan inilah bengkel tempel ban sejati,” kataStefan. York segera berlari menuju bengkel dan bertanya kepada beberapa orangyang berteduh di depan bengkel. Dari jauh Stefan memperhatikan. Tak berapa lamaYork berbalik menemui Stefan dan berkata lirih, ”Gak bisa Fan.” Mereka refleksmendorong motor mencari kemungkinan-kemingkinan baru di malam ini.&lt;br /&gt;Kira-kira pukul 02.00 malam, berjarak lima puluh meter dari bengkel keenam,mereka pun menemukan bengkel ketujuh. Mereka melihat banyak orang tertidur diluar latar bengkel; seorang Bapak, tiga remaja, tiga gadis dan dua Ibu.”Mungkin mereka sedang mencari titik aman dari kemungkinan gempa susulan,”pikir Stefan. Sebuah televisi kecil dinyalakan dari mesin genzet tepat ditengah-tengah bengkel. Bapak dan remaja itu menonton stasiun televisi programBreaking News tentang Gempa Bumi sore tadi. Stefan dan York memarkir motor danikut menonton bersama mereka. Dari potret berita yang penuh tangisan histeris,akhirnya Stefan dan York tahu mengapa bengkel-bengkel tutup malam ini. Merekatak berpikir lagi untuk menempel ban dan ikhlas menghabiskan malam mereka dibengkel ketujuh ini.&lt;br /&gt;Padang, 16 Aktober 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-8146350872552733253?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/8146350872552733253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=8146350872552733253&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/8146350872552733253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/8146350872552733253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2011/12/cerpen-bengkel-ketujuh.html' title='Cerpen: Bengkel Ketujuh'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-6222947114767045712</id><published>2009-10-09T16:10:00.004+07:00</published><updated>2011-12-29T21:09:10.261+07:00</updated><title type='text'>Nyanyian Sunyi Seorang Bisu</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;NYANYIAN SUNYI&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sunyi di atap kesunyian&lt;br /&gt; Derita di tungku harap&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Hamba duka lara&lt;br /&gt; Kapan tiba kearifan kita &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Takut hanya harap...Entah gelap.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Manusia dhaif....seribu naïf&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Bahkan tak pernah berada  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Bertopeng kelemahan dan kebusukan manusia&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Karakter berpura-pura manusia&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Menyesali hidup&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Manusia kuat bertahta mata hati&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Manusia berdiri di puncak kebenaran hakikat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Aku berbicara kepada manusia kuat&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Aku meresapi setiap kata-kata&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Aku harap memberi cahaya batin  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kita hendak memenangkan harapan&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Bergerak menuju Dia sebagai puncak revolusi tertinggi dalam hidup&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Janji kita&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Jalan kita&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Sunyi kita&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Revolusi kita&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Padang 21 September 2009&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-6222947114767045712?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/6222947114767045712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=6222947114767045712&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6222947114767045712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6222947114767045712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/10/jalan-sunyi.html' title='Nyanyian Sunyi Seorang Bisu'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-7901289190121852717</id><published>2009-10-09T16:06:00.004+07:00</published><updated>2011-12-29T21:06:00.855+07:00</updated><title type='text'>Samurai</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;PKM&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Tadi saya mengunjungi pusat kegiatan mahasiswa. Saya melihat pohon kertas, pameran buku dan mahasiswa berseliweran. Semoga kreativitas mahasiswa tak pernah berhenti.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Masjid Nurul Ilmi&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Saya menghabiskan  waktu di Masjid Nurul Ilmi. Selepas Ashar aku beranjak pulang. Sebab siapa pun harus pulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Buka Puasa&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kemarin buka puasa bersama Kaki Lima Institute. Saya didaulat menjadi pembicara pasca buka puasa tentang puasa dan solidaritas social. Sederhana, saya ungkap bahwa puasa harus membebaskan manusia, lebih empatik dan mengembalikan kepada kesederhanaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Diskusi menjadi dinamis. “Buka puasa kok di hotel mewah. Ini kan mengacaukan tujuan puasa untuk empati dengan kemiskinan structural. Buka puasa menjadi budaya pop, ungkapnya.”  Sebuah pertanyaan yang memancing nalar kritis semua peserta diskusi hingga menyerempet ke teori kelas Marx, siklus peradaban Khaldun dan Hegemoni Gramski.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Saya mengapresiasi diksusi kali ini. It ‘s yes  man!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Negeri 5 Menara&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kemarin aku ke Gramedia untuk sebuah novel karya A. Fuadi, Negeri 5 Menara. Novelnya mengalir seperti sungai Nil. Saya membacanya dengan kenikmatan. Mungkin karena alurnya berlatar klasik di sebuah Pesantren Modern. Membacanya mengingatkan saya akan masa silam di sebuah Pesantern Kecil di Sulawesi Selatan, DDI Mangkoso Barru. Karakter tokoh pun serasa merasuk ke dalam diri.  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Aku menyantap hidangan novel Fuadi, Negeri 5 Menara seraya bergumam, “Aku hendak menjadi.” Rencana aku ke depan, sederhana, ingin menulis novel juga. Man Jadda Wajada. Amin Ya Rabbal Alamin&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;I,m in the Night&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;if you believe in something, whole universe will conspire in your favor&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;02/10/09&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Pram dan Harapan Aku&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Aku mencintai Pram sehingga menyimak  nasehat besarnya dengan bajik. “Menulislah demi keabadian, katanya.” Maka aku pun mencoba menulis sejak detik ini hingga maut menjemputku. Aku persembahkan sedikit kesadaranku untuk keabadian dan peradaban masa depan. Semoga semua harapan menubuh, memiliki tangan dan kaki di zaman anak-anakku.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Gempa Bumi Sumatra Barat&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;30 September 2009 gempa bumi besar dengan kekuatan 7.6 melanda tanah Minangkabau. Gempa ini berpusat di Pariaman dan terasa hingga ke Singapura. Gempa ini memakan korban yang sangat banyak sebab gempa berdurasi lama dan pusat gempa sangat dekat dengan kota-kota besar yaitu kota Pariaman dan kota Padang. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Sore itu di perumahan dosen, saya berdiskusi di ruang tamu bersama Fe dan Anton. Kami berencana mengadakan diskusi tentang upaya membangun tradisi kritis di Fisip Unand minggu ini. Tiba-tiba serasa atap rumah dihinggapi puluhan burung manyar. Rumah perlahan bergetar pelan dan makin intensif. Kami pun menuju halaman rumah dan melihat pepohonan tua melambai seperti ditiup badai Katrina. Di depan mata kami, bangunan Universitas Andalas dengan tiang dan dinding dari beton retak dan terburai. Sore menyisakan trauma bagi mahasiswa. Malam hari ribuan mahasiswa dievakuasi ke mesjid kampus.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Sementara di kota Padang, Pasar Raya ambruk dan terbakar saat banyak manusia berkumpul. Puluhan terhimpit dan meninggal. Di beberapa pusat belajar seperti Gama dan LIA pun siswa-siswi tertimpa bangunan dan meninggal. Di kabupaten Pariaman, 300 orang tertimbun longsor. Hotel Ambacang hancur dan menimbun banyak orang, hotel Inang Muara dan Bumi Minang pun rusak. Korban makin lama makin banyak di kota Padang dan kota kabupaten Pariaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Singkatnya, Infrastruktur kantor, rumah, sekolah dan jalan rusak dan melumpuhkan semua sektor. Banyak korban manusia dan kerusakan infrastruktur. Proses penanggulangan bencana harus menjadi prioritas dan humanis. Dan yang terpenting, setelah musibah diatasi secara tepat dan serius haruslah melihat ke depan. Ini harus menjadi momentum kemanusiaan dan peradaban baru bagi masyarakat Sumatra Barat. Semua harus terlibat dalam berdoa dan membantu masyarakat Sumatra Barat. Semoga Allah menganugerahkan kesabaran dan kekuatan kepada masyarakat Sumatra Barat.  Amin Ya Rabbal Alamin&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Potret Kacamata Metro TV&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Malam hari setelah gempa, aku menyimak berita Metro TV seputar gempa bumi di Sumatra Barat di sebuah bengkel Tempel Ban. Sudut pandang berita Metro TV mengaduk-aduk rasa kemanusiaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Jepang bersatu: Nobunaga, hedeyoshi, tokugawa ieyasu&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Lima Cincin Miyamoto Musashi&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Buku kecil ini dahsyat, mengungkap rahasia Bumi, Air, Angin, Api dan Kekosongan. Buku ini ditulis oleh seorang Samurai hebat yang hampir tak pernah terkalahkan dan menemukan kebijaksanaannya dalam jalan samurai, jalan seni bela diri. Dia berpesan kepada para muridnya: &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan memunggungi beragam jalan yang ada dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan menginginkan kenikmatan fisik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan berniat mengandalkan apa pun.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Pikirkan diri sendiri secara ringan dan pikirkan dunia secara mendalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan pernah berpikiran tamak.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan menyesali hal-hal yang terjadi dalam kehidupan pribadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan iri akan kebaikan atau kejahatan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan meratapi perpisahan di jalan mana pun untuk alasan apa pun.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan mengeluh atau merasa getir akan diri sendiri atau orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jauhi perasaan saat memasuki jalan cinta.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan pilih kasih.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan memiliki harapan untuk punya rumah pribadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan memiliki kesukaan akan makanan lezat bagi diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan menyimpan barang antik warisan dari generasi ke generasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan berpuasa hingga merusak fisikmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Kecuali perlengkapan militer, jangan menyukai benda-benda duniawi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Saat berada di jalan, jangan menyesali kematian.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan berniat memiliki barang berharga atau tanah di masa tua.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Hormati Dewa dan Buddha tetapi jangan tergantung kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Meski kau menyerahkan nyawa, jangan serahkan kehormatanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;• Jangan pernah memisahkan diri dari jalan seni bela diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Hari kedua bulan kelima, tahun kedua soho 1645&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Shinmen Musashi&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Gerakan Ganda Fazlur Rahman&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Seorang pemikir Islam yang tangguh harus memiliki pemikiran yang hebat. Dia, Fazlur Rahman, boleh lah menjadi spirit intelektual bagi kita. Dia merumuskan orisinalitasnya dalam metode kritik sejarahnya, metode penafsiran sistematis dan gerakan ganda (a double movement).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kritik sejarah Rahman berupaya menemukan nilai-nilai dalam sejarah. Boleh jadi maksud Rahman adalah maksud Mutahhari ketika memaknai sejarah ilmiah sebagai upaya menemukan aturan dan tradisi dari sejarah manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Metode penafsiran sistematis beranjak dari menemukan makna teks Alquran dari histori hidup Muhammad, menemukan legalitas teks dan tujuan Islam, dan merelavansikan tujuan Islam dengan latar sosio-kultural.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Metode ketiga Rahman disebut gerakan ganda. “A double movement is movements from the present situation to Quranic time, then back to the present.” Mode intelektual yang melihat kondisi hari ini dengan merujuk kepada prinsip sejarah Qurani dan memecahkan masalah dengan prinsip ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Akhirnya, Rahman menyarankan intelektual muslim menemukan pandangan dunia Tauhid dan merumuskan Etika Qurani dari Pandangan Tauhid ini dan Membumikan Etika Qurani ini dalam masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Membaca Islam secara Intelektual menjadi keharusan untuk menemukan etika Islam yang sejati. Ini lah yang membawa Ismail Raji Al-Faruqi dan Naquib Al-Attas mendorong Islamization of Knowledge, Arkoun mengusung Dekostruksi untuk menemukan makna sejati Islam, Abid Al-Jabiri menggugat kritik nalar Arab untuk keluar dari romantisme kronis agar menjadi kritis demi menemukan makna progresif Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Wajarlah, Fazlur Rahman menjadi guru para intelektual pembaharu Indonesia semisal Cak Nur, Buya Syafii Maarif dan Negarawan Amin Rais.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Cahaya Suhrawardi&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Siapa yang tak tak takjub dengan cahaya Suhrawardi. Ibarat mentari yang menyinari bumi, Ia pun adalah mentari yang menyinari para filsuf dan teosof.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Filsafat cahaya Suhrawardi mengombinasikan intuisi dan diskursif. Filsafatnya meyakini fundamentalnya esensi cahaya. Realitas cahaya tertinggi disebut Nurul Anwar yaitu Allah yang bergradasi memancarkan cahaya murni dan beremanasi lagi menjadi cahaya-cahaya dengan gradasi yang lebih rendah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Filsafat cahaya menjadi pilihan dalam memahami realitas metafisika.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-7901289190121852717?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/7901289190121852717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=7901289190121852717&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7901289190121852717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7901289190121852717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/10/jalan-musashi.html' title='Samurai'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-6823921192812609882</id><published>2009-04-02T13:57:00.002+07:00</published><updated>2011-12-29T21:06:20.367+07:00</updated><title type='text'>Peran Media</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Peran Media Jelang Pemilu 2009&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Oleh: Muhammad Thaufan A*&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Menjemput Pemilu 2009 ini, dinamika politik di Indonesia berada di bawah bayang kuasa media. Politik dikendalikan oleh media sehingga politik belum menjadi politik sebelum media menghadirkannya. Penghadiran (representasi) media menunjukkan relasi kuasa dan identitas politik yang semakin mencerdaskan publik. Misalnya tayangan program Debat Partai di stasiun TV One, program Kursi Panas di Trans7, Kencan Politik di Antv dan Program Partai Bicara di Metro TV. Program semacam ini memperjelas peran media sebagai penyingkap tabir ketidaktahuan publik terhadap wacana politik aktual dan menjanjikan masa depan masyarakat politik yang lebih kuat di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) menyiapkan akses informasi untuk menjaga kesehatan demokrasi. Media memiliki kuasa mempengaruhi kesadaran politik khalayak untuk mengontrol ruang sosialnya. Kedahsyatan terpaan media ibarat tembakan peluru yang membuat audience terkesima dengan beragam fenomena politik. Apalagi peran politik secara psikologis dilakoni pula oleh aktor politik dengan kesadaran diri berada dalam sorotan media yang disaksikan oleh ribuan pasang mata. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Politik pun dirayakan kontestan pemilu di dalam media cetak, elektronik dan online untuk membangun citra dan popularitas dengan dana besar. Walaupun, mereka sangat menyadari kualitas hasil yang akan dicapai ditentukan oleh artikulasi kepentingan dan keberanian mereka untuk berhadapan langsung dan berkomunikasi dengan publik untuk menata hubungan yang lebih dekat. Pengaruh media sangat besar, namun tidak dapat mengalahkan hubungan yang bersifat antarpribadi. Kecuali publik telah mencapai puncak nalar berpolitik maka kontestan yang terpilih adalah mereka yang berani membangun kontrak politik dan memiliki kilas balik moralitas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Nuansa politik dalam media kini jauh berbeda dengan zaman Orde Baru yang didominasi hanya satu partai dan satu tokoh yaitu Golkar dan Soeharto. Namun, wajah pragmatis di balik euforia politik dalam media tampak sama ketika menyaksikan jebakan demokrasi dalam pagelaran iklan politik para kandidat calon legislatif dan partai politik yang berwatak parokial hanya mengambil keuntungan di tengah rapuhnya tatanan politik. Hal ini masih disebabkan calon legislatif dan partai politik tidak memiliki visi dan basis ideologis yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan publik. Calon legislatif takut bersentuhan langsung dengan konstituennya dan partai politik miskin program karena didirikan hanya sebagai kuda pacuan popularitas oleh tokoh tertentu. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kondisi politik semacam ini di mana pembaharuan hanya diungkapkan di permukaan dalam pandangan analis politik ABC News, Fareed Zakaria, hanya memungkinkan lahirnya demokrasi semu sebagai perulangan-perulangan dari wajah politik masa silam dalam karakter yang berbeda di beberapa belahan bumi seperti Rusia, Asia Tengah dan Amerika Latin.  Partai lama dan tokoh lama masih sangat berperan besar dimana publik dihantui oleh doktrin otoriterisme mereka. Permainan politik mereka hanya sekedar merebut peluang melalui pengamanan akses menuju kuasa demi tujuan menyimpang yang tidak mengarah pada pematangan demokrasi, malahan menghancurkan demokrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Banyak harapan ketika melihat spirit partisipasi publik mengalami kemajuan. Publik menjadi matang dan mampu membaca makna di balik dinamika politik. Sikap pragmatis publik yang muncul seperti demontrasi menolak pemilu 2009 di Papua adalah sebuah perlawanan terhadap praktik politik elit yang cenderung inkonsisten terhadap agenda publik yang pernah dijanjikan dalam pemilu sebelumnya. Publik pun berkat terpaan media bisa mengapresiasi pemilu dengan cara yang kritis untuk memilih atau tidak memilih karena pertimbangan konsistensi. Dengan demikian, pemilu 2009 ini harus benar-benar ditunjukkan sebagai momen kembali ke politik kepentingan publik (public interest).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Secara umum, tesis transisi politik bahwa proses politik berayun dari otoritarianisme menuju konsolidasi demokrasi (concolidated democracy) dalam kurun satu dasawarsa ini belum terbukti di Indonesia. Liberalisasi politik baru sebatas wacana media. Jika melihat politik secara detail dalam kehidupan nyata terlihat masih rapuh sebab pelaku politik kehilangan arah dan tujuan berpolitik. Politik dihadirkan secara individual dengan kualitas yang rendah dalam wajah money-politics dan diusung oleh partai pragmatis yang tidak mengenal wacana kepentingan publik dan masyarakat madani. Bahkan politik di Indonesia kehilangan kemuliaan dan berada  di tubir Neo-Otoritarianisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Dalam perspektif Erving Goffman, wajah politik Indonesia dalam media ibarat teater yang dibatasi oleh panggung depan (front region) dan panggung belakang (back stage). Panggung depan adalah ruang merias diri agar tampak cantik dan cerdas, walaupun menor seperti Jeng Kelling. Panggung depan dikonstruksi sebagai ruang idealitas bahkan hiperrealitas agar terkesan hebat. Panggung depan mengikuti naskah politik yang ketat. Lain hal dengan panggung belakang, menjadi latar peran yang autentik-manusiawi. Kebanalan teater politik ini terletak dalam lakon di panggung depan jika aktornya adalah manusia yang orisinal kurang bemoral di panggung belakang. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Publik menginginkan keutuhan diri dan model komunikasi politik yang sederhana dalam media. Sebuah keberanian untuk tampil apa adanya (something real) dan berkomunikasi yang jujur tentang pesan-pesan perubahan yang diperjuangkan. Jamaknya, publik tidak mempunyai banyak rujukan kecuali nalar sederhana (common sense), opinion leader dan mainstream kebudayaan. Publik terbiasa melihat kemiskinan tentu akan sangat dekat dengan pesan kemiskinan pula.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kontestan boleh mengemas pesan melalui media manapun, tetapi jangan sampai publik tidak memahami maksudnya. Di sinilah pentingnya marketing politik beradaptasi dengan pengetahuan publik untuk menggugah kepercayaan publik sekaligus edukasi agar mereka berpartisipasi dalam politik sebagai keniscayaan ketika ingin bersama membangun suatu tatanan masyarakat futuristik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kebingungan publik akibat over-komodifikasi politik menjelang pemilu dalam wajah iklan, poster, pamflet dan baliho harus diakhiri. Publik sangat resah dengan pesan-pesan emosional yang saling memojokkan di antara kontestan walau diniatkan sebagai smart campaign. Dekostruksi nilai politik yang berlebihan ternyata malah menghadirkan multipersepsi yang berujung miskonsepsi di tengah publik. Publik kehilangan patokan nilai yang sakral dalam melihat kompetisi politik yang saling menghitamkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Fenomena kuasa media menunjukkan bahwa politik hanya salah satu rubrik kecil dalam media. Maka media sebagai pengubah realitas (agent of reform) selayaknya mendesain demokrasi sejati dan merasionalkan beragam manuver politik. Demokrasi menuntut kedewasaan politik, namun demokrasi lebih menuntut lagi kedewasaan media dalam memainkan peran vitalnya sebagai supremasi publik untuk menjauhkan kemungkinan penyimpangan demokrasi dalam wajah otokrat terpilih, tirani mayoritas dan konflik horisontal.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Media akan mendesakkan ruang kepada identitas dan praktik politik yang memiliki  kedalaman visi, etika dan estetika untuk mengafirmasi nalar komunikatif di tengah khalayak ramai. Media sangat menyadari bahwa dinamika politik di negeri ini tidak ahistoris, tetapi sebuah perjalanan panjang meniti jalan berliku menuju demokrasi yang lebih berpihak kepada kesejahteraan  rakyat. Media merekam dengan baik jejak langkah keberpihakan kontestan politik kepada rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Ketika kontestan keblinger memperdebatkan perilaku politik artifisial, misalnya polemik dua partai yang mengklaim diri paling berprestasi dan terkuat, maka media meluruskan nalar politik bahwa yang lebih substantif seharusnya partai politik tak kenal lelah dan ikhlas dalam melayani konstituennya. Pemilu hanya necessary condition yang memerlukan aksi nyata sejak dini dari partai-partai politik.  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Media strategis mewakili publik untuk mendesain diskursus politik yang mengarah kepada substansi demokrasi. Media memiliki agenda publik yang membantu kelahiran tata kelola pemerintahan yang akuntabel dan transparan, kepemimpinan yang adil dan bermartabat, serta masyarakat madani yang kuat dan sehat. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Media adalah institusi masa depan publik yang menciptakan kesetaraan bukan perbudakan seperti zaman Orde Baru. Kesadaran media akan kuasa pengetahuannya harus dibarengi dengan penegakan kewarasan ruang publik. Media harus menjadi penentu untuk pendalaman dan perluasan ruang publik yang setara dan humanis. Sebab ketika media terdiam dengan peran ini maka niscaya ruang publik akan kembali berwatak kerdil, berpihak kepada establishment, termarjinalkan dan perlahan tumbuh rasionalitas mekanistik-pragmatis yang mempengaruhi arena politik. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kuasa media mendorong publik untuk proaktif merespon wacana politik dan berperan sebagai kekuatan alternatif dalam melakukan counter hegemony, menentukan siapa yang memiliki kualitas dan kapasitas untuk diberi amanah politik. Publik harus belajar menghakimi kontestan pemilu sesuai dengan prestasi dan kepekaan mereka terhadap kepentingan publik. Inilah peran media bersama publik mencari alternative way out  menuju Indonesia sejati di Pemilu 2009.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Staf Pengajar Program Studi Komunikasi FISIP Universitas Andalas&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Disampaikan dalam Workshop Pendidikan Pemilu Badko HMI Sumbar, 25 Maret 2009 di kota Padang&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-6823921192812609882?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/6823921192812609882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=6823921192812609882&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6823921192812609882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6823921192812609882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/04/peran-media.html' title='Peran Media'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-1497878994745940676</id><published>2009-04-01T12:15:00.001+07:00</published><updated>2011-12-29T21:06:44.201+07:00</updated><title type='text'>Tentang Kami</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SdL5qjZPXOI/AAAAAAAAALU/fqq7riakvhA/s1600-h/z7.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319588619328904418" src="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SdL5qjZPXOI/AAAAAAAAALU/fqq7riakvhA/s320/z7.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 123px; margin: 0 0 10px 10px; width: 93px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Tentang Kami&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Malam ini aku diskusi dengan Fe dan Novi. Keduanya adalah sahabat terbaik. Ada gugatan intelektual dalam nalar kami yang dangkal. Mulai dari keperluan memandang politik di negeri ini secara lebih baik, dari kebutuhan rakyat, dan kesadaran kita sebagai individu dan masyarakat dalam memilih pranata demokrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kaum muda harusnya lebih banyak berperan dalam konteks pencerahan ini. Kalau perlu, sedikit radikal, menghentikan sepak terjang generasi tua dan menyegerakan kelahiran generasi muda yang lebih cerdas dan punya lebih banyak waktu. Walau dengan strategi dan taktik yang berliku.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Namun, apa lacur kaum muda terjebak dengan kemapanan. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Di moment buruk inilah, peran kerasulan para dosen. Potret mereka ibarat menara gading yang bisu, angkuh dengan keindahan dan tamak dengan kemapanan harus diakhiri. Idealnya, seorang dosen menjadi sebuah pemaknaan, sebuah simbol kerja keras mencari pengetahuan, menemukan gagasan-gagasan hebat, dan mentransformasikan kaum muda dan masyarakat. Seorang dosen adalah mata air kecemerlangan dan langit biru kearifan. Ia adalah masa depan kaum muda&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Tentang Media&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Akhir-akhir ini aku melihat media kehilangan perspektif yang dalam. Benak aku berisik ”Terlampau bebas tak bernalar, terlalu baik dengan kemapanan, dan teramat deterministik.”&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;1 April 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-1497878994745940676?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/1497878994745940676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=1497878994745940676&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/1497878994745940676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/1497878994745940676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/04/tentang-dosen-tentang-kami-malam-ini.html' title='Tentang Kami'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SdL5qjZPXOI/AAAAAAAAALU/fqq7riakvhA/s72-c/z7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-3270890123649533475</id><published>2009-04-01T12:09:00.003+07:00</published><updated>2011-12-29T21:07:01.422+07:00</updated><title type='text'>Gurutta'</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SdL6dkNqHKI/AAAAAAAAALc/RH31XcOgNCg/s1600-h/Filsuf.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319589495722089634" src="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SdL6dkNqHKI/AAAAAAAAALc/RH31XcOgNCg/s320/Filsuf.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 116px; margin: 0 0 10px 10px; width: 115px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Pertemuan aku dan mereka telah berlalu. Kira-kira sebulan yang lalu. Entah mengapa, tiba-tiba aku ingin mengisahkannya. Pada suatu ketika, aku diajak ke kab. Batusangkar oleh teman-teman menghadiri walimah seorang sahabat. Namun, akhirnya malah tinggal di kab. Padang Panjang. Tepatnya, di sebuah pesantren bernama Serambi Mekah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Di pesantren inilah, aku bertemu dengan masa lalu yang sejuk. Aku bersua dengan para Gurundaku di pesantren DDI Mangkoso Kab. Barru: Gurutta Wahab Zakaria, Gurutta Farid Wajdi, Gurutta Sanusi Baco dan beberapa alim ulama dari MUI Sulsel. Mereka datang ke Sumbar dalam rangka pertemuan ulama se-Indonesia untuk membahas masalah aktual keummatan. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Saya luar biasa senangnya, bisa bertemu dengan mereka, orang-orang yang bersahaja dan memiliki pengetahuan agama yang sangat tinggi. Aku sepertinya diajarkan oleh mereka menjadi manusia yang mencoba menghayati ajaran tradisional untuk melihat fenomena kemodernan manusia. Secara sepihak, saya kadang berpikir pula bahwa mereka pun mengajarkan aku mengerti tentang perbedaan manusia yang beranjak dari cara membicarakan sesuatu dan letak perspektifnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Mereka adalah kiai-kiai yang mengajarkan kearifan dalam melihat realitas dunia yang sementara. Mereka menjelaskan tentang akhlak dan keutamaan memuliakan manusia dalam kata dan perilaku mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Aku belum bisa memuliakan mereka sebagaimana seharusnya. Semoga suatu saat lebih baik. Mereka adalah teladan bagi aku di tengah rumitnya memahami hidup hari ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-3270890123649533475?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/3270890123649533475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=3270890123649533475&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/3270890123649533475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/3270890123649533475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/04/gurutta.html' title='Gurutta&apos;'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SdL6dkNqHKI/AAAAAAAAALc/RH31XcOgNCg/s72-c/Filsuf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-7217764739567243508</id><published>2009-01-13T10:29:00.002+07:00</published><updated>2011-12-29T20:43:21.791+07:00</updated><title type='text'>Israel vs Palestina</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWwLBHmvMmI/AAAAAAAAAKY/YqSO9VnvvwU/s1600-h/Palestina.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290615776102789730" src="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWwLBHmvMmI/AAAAAAAAAKY/YqSO9VnvvwU/s200/Palestina.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 117px; margin: 0 0 10px 10px; width: 113px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Israel VS Palestina&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alquran memotret dengan baik dialog (tentu di luar ruang dan waktu) antara Tuhan dan para malaikat-Nya tentang kehadiran manusia di semesta raya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika manusia hendak diciptakan, para malaikat pun bertanya kepada Tuhan, “apakah Engkau akan menjadikan mereka di atas muka bumi di mana mereka akan merusak di dalamnya dan menumpahkan darah sebagaimana telah terjadi sebelumnya. Padahal kami bertasbih-memuja, menyucikan-Mu”. Tuhan pun menjawab, “sungguh aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasa-rasanya, dialog ini berkaitan dengan konteks hari ini. Sebuah tragedy dan komedi kemanusiaan. Konflik yang menyayat hati dan mengguncang jiwa. Atas nama agama atau sekadar ego-nafsu manusia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Israel kali ini benar-benar menurut saya adalah sebuah symbol kegelapan. Israael adalah nama lain dari sebuah kondisi ketika akal sehat dan hati nurani manusia menjadi tak bermakna, dikalahkan oleh egoisme politik. Demi sebuah dan semua yang tak jelas menjadi alasan pembantain kurang lebih 800 orang Palestina. Jumlah ini akan bertambah dan bertambah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan Palestina adalah sebuah symbol kebenaran yang lemah. Menjadi mangsa singa buas yang ateis. Palestina adalah titik kesadaran dan puncak kemanusiaan. Melihat Palestina berarti melihat keindahan yang tercabik-cabik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perang Israel vs Palestina di tahun 2009 adalah tragedy kemanusiaan. Apa yang manusia hendak cari di semesta raya ini? Aku bertanya dan mohon beri jawab. Bukankah hidup hanya sejenak, sekedip mata. Mengapa tidak berbagi rasa dan berbagi sayang? Apakah yang membedakan jiwa seorang Israel dengan jiwa seorang Palestina?  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya yakin, bahkan peletak agama Tauhid (Yahudi, Nasrani dan Islam) Nabi Ibrahim, pun akan meneteskan air mata kepiluannya melihat pertikaian Israel dan Palestina.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Tuhan memberikan bantuan bala tentara-Nya  dan kesabaran kepada kaum yang Haq dan memberikan hidayah kepada kaum yang bathil atau memusnahkan mereka dari muka bumi sebagai balasan yang niscaya. Amin Mujibassailin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-7217764739567243508?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/7217764739567243508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=7217764739567243508&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7217764739567243508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7217764739567243508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/01/israel-vs-palestina-alquran-memotret.html' title='Israel vs Palestina'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWwLBHmvMmI/AAAAAAAAAKY/YqSO9VnvvwU/s72-c/Palestina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-570331405996355665</id><published>2009-01-13T10:26:00.001+07:00</published><updated>2011-12-29T20:44:18.624+07:00</updated><title type='text'>Bukittinggi: Eks-Ibukota RI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWwKkWlnMGI/AAAAAAAAAKQ/J60KgKI_6-U/s1600-h/Gadang.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290615281908396130" src="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWwKkWlnMGI/AAAAAAAAAKQ/J60KgKI_6-U/s200/Gadang.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 135px; margin: 0 0 10px 10px; width: 90px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukit Tinggi: Bukit yang sangat Tinggi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bersiar ke bukit tinggi. Sebuah perjalanan yang romantis nan menyenangkan. Sebelum bercerita lebih jauh, tentu saja riuhnya perjalanan ini berkat sahabat saya bernama Epaldi Bahar. Dia adalah  Ketua Badko Sumatra Barat yang terlihat sangat  sejuk dan tenang. Jadi, ini perjalanan kami berdua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan ini dimulai dari kota Padang pkl. 16.00 WIB menuju arah kota Bukit Tinggi dengan maksud berkunjung lebih dulu ke tempat LK II HMI Cabang Bukit Tinggi. Kami pun berdua tiba dengan selamat di lokasi Intermediate Training sehabis Isya. Setelah sejenak istirahat, kami mengobrol semalaman dengan sahabat-sahabat HMI. Tentu saja tentang masa depan HMI terutama model training yang efektif demi tercapainya kualitas perkaderan sebagai tujuan mulia adanya HMI. Aku pun menyempatkan diri berdiskusi dengan adik-adik peserta training dari cabang Padang. Sekadar memberi spirit kepada mereka agar lebih siap dengan perubahan. Sebab senantiasa akan ada kejutan-kejutan dalam setiap Intermediate Training HMI. Saya rasa LK II memang moment bereksperimen. Terserah, mau penguatan teori atau terjun ke lapangan untuk membumi. Bagi aku, sah-sah saja asal tetap memiliki orientasi paradigma yang jelas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi menjelang siang, setelah sarapan, kami menuju Bukit Tinggi. Kami menumpang sebuah angkot dan turun tepat di Pasar Bawah. Dalam perjalanan, Epal yang melihat saya berjalan berlalu demikian modern berkata sambil tersenyum, “santai aja bro, perjalanan masih panjang dan baru akan dimulai.” Benar juga. Perjalanan panjang menyusuri tangga ke Pasar Atas ternyata benar menguras tenaga. Anak tangganya menjulang ke langit ke tujuh. Namun, suasana di sekeliling menghibur sebab menyenangkan. Bahkan, aku sempat teringat dengan legenda Siti Nurbaya maupun legenda Midun ketika melihat kereta-kereta kuda, pedagang tradisional, dan para penjual batu mulia di pinggiran tangga yang menjulang. Suasana yang terlihat otentik, jauh dari pasar Kapitalistik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami pun tiba di Pasar Atas. Kami berjalan melintasi kios-kios pedagang. Epal berkata, “ Bukit Tinggilah yang sebenarnya the real Minangkabau, sedang yang lain hanyalah daerah rantau.” Tak berapa lama, kami pun tiba di situs Jam Gadang. Waduh, sungguh eksotis. Dan yang lebih eksotis lagi, konon jam ini dibuat karena rasa malas. Ratu Belanda yang gendut karena daging dan roti selalu enggan beranjak dari tepi ranjang hanya untuk melihat jam di pagi hari. Akhirnya, sang Ratu membuat jam Gadang, yang bermakna jam yang besar agar ketika melongok dari jendela hotel dapat menatap jam dari kejauhan atau sekadar mendengar dentuman bunyi jarum jam gadang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi aku, jam Gadang adalah sebuah symbol modernitas dan postcolonial. Jam ini adalah artefak sejarah yang berkomunikasi tentang nalar waktu yang bergerak meninggalkan masa lalu sekaligus symbol inferioritas. Jam Gadang adalah sebuah titik paradoks antara masa depan, pembaharuan dan ketakjuban di Sumatra Barat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dekat jam Gadang berdiri istana Bung Hatta. Istana yang megah. Tak berapa lama, kami berdua pun menyusuri pertokoan dan singgah di Warung Sederhana. Sejenak mengisi perut agar lebih kuat berjalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Episode yang lebih menarik ketika kami berkunjung dan bertemu dengan sahabat lama. Sang Rusa dengan tanduk yang kokoh, si Unta Punuk Satu dari Afrika-Arab. Gajah jumbo, lima Buaya sebesar batang pohon beringin. Namun, saya sedikit kecewa ketika sahabat saya, Harimau Sumatra, tidak terlihat. Semoga lain kali, Ia ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari kebun binatang, kami menyeberangi sebuah jembatan menuju benteng Fortdecock. Sebuah benteng strategis di atas ketinggian. Benteng ini dilengkapi meriam-meriam yang  siap menghunjam. Tentu, posisi benteng ini meniscayakan kemenangan Belanda di masa lalu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan terhebat kami adalah perjalanan menuju Ngarai Sianok. Benar-benar menakjubkan. Kami berjelajah, menukik ke bawah Ngarai lalu bermanuver ke atas dengan tangga-tangga. Benar-benar lelah. Dan sesampainya di atas Ngarai, melihat pemandangan vertical Ngarai Sianok. Ini buatan siapa?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Ngarai, setelah melihat sekawanan monyet jinak, kami pun berwisata masuk ke dalam Lubang Jepang. Lubang ini benar-benar menakjubkan. Namun, lubang ini sudah pasti sebuah luka sejarah bernama Romusha. Membangun gua dengan tenaga manusia benar-benar tak berperikemanusiaan. Namun di sisi lain, setiap kerja keras menghasilkan karya hebat yang menyentuh estetika manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan ini pun berakhir. Aku bersandar di kursi taman sejenak merefleksikan perjalanan kecil mengitari Bukit Tinggi. Sebuah kota kecil yang telah menjadi mantan ibukota Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pantai Air Manis: Sabtu10012009&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bermain bola dan berselancar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-570331405996355665?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/570331405996355665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=570331405996355665&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/570331405996355665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/570331405996355665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/01/bukit-tinggi-bukit-yang-sangat-tinggi.html' title='Bukittinggi: Eks-Ibukota RI'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWwKkWlnMGI/AAAAAAAAAKQ/J60KgKI_6-U/s72-c/Gadang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-4254265039753508762</id><published>2009-01-12T10:08:00.001+07:00</published><updated>2011-12-29T20:45:02.877+07:00</updated><title type='text'>Perempuan dan Globalisasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWq03PeoXXI/AAAAAAAAAKI/kcztRCRSZXE/s1600-h/bb.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290239573440879986" src="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWq03PeoXXI/AAAAAAAAAKI/kcztRCRSZXE/s200/bb.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 100px; margin: 0 0 10px 10px; width: 137px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PEREMPUAN DAN GLOBALISASI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A.Pengantar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku Julia Suryakusuma, Sex, Power, and Nation (2004), dengan baik sekali menerangkan persoalan isu-isu perempuan di zaman Orde Baru. Ia berpendapat bahwa Orde Baru memanipulasi sedemikian rupa peranan perempuan dan memakainya sebagai instrumen belaka untuk negara agar dapat meluaskan hegemoni rezim tersebut. Asumsinya adalah perempuan merupakan unit dasar keluarga dan masyarakat sehingga mengontrol perempuan menjadi agenda politik rezim Orde Baru dan secara efisien pula mengontrol bangsa secara keseluruhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di zaman era reformasi kini tentu cara praktik Orde Baru sudah tak dapat diterima lagi. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan terdahulu, Khofifah Indah Parawansa, dengan gigih mengangkat isu perempuan sebagai isu pemberdayaan dan bukan memperdayakan perempuan. Kerja keras kelompok perempuan dari Sabang hingga Merauke adalah bekerja untuk hak-hak perempuan, memformulasikan kepentingan perempuan untuk perempuan dan oleh perempuan tanpa campur tangan negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun telah ada perempuan kita yang dipandang sebagai manusia multidimensional (tidak hanya dianggap sebagai ratu `domestik`), namun hingga kini, citra perempuan di ruang privat masih berkisar pada dapur, sumur, kasur. Sedangkan di ruang publik masih direpresentasikan dalam body and beauty. Perempuan menjadi korban Kapitalisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini semua karena di era ekonomi kapitalisme modern ini, fungsi tubuh perempuan makin bergeser dari fungsi organis/biologis/reproduktif ke arah fungsi ekonomi. Tubuh dan hasrat dipergunakan sebagai titik sentral produk, yang disebut dengan `ekonomi libido. Bahkan di dunia periklanan, perempuan dianggap sebagai simbol seks, objek keindahan badaniah yang hanya enak untuk dipandang dan dinikmati. Itulah sebabnya salah satu teknik propaganda yang sering digunakan adalah dengan menampilkan daya tarik seks. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Iklan, selain mempengaruhi citra perempuan sebagai individu, juga mempengaruhi citranya sebagai makhluk sosial. Sehingga tidak berlebihan bila Kamla Bhasin (Women, Development and Media) menyatakan bahwa ``... media bukannya memampukan perempuan, melainkan malah membuatnya melemah.`` &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sinilah letak paradoks perempuan hari ini. Di satu sisi, perempuan digambarkan terjebak dalam penjara cultural, sehingga idealisme perempuan mencoba melepas diri dari penjara cultural ini. Perempuan sekuat tenaga menembus batas tradisionalisme.. Namun di sisi lain, perempuan yang terlampau mengikuti keinginan zaman dan mengimajinasikan diri sebagai budak globalisasi pun lebih cenderung kehilangan identitas dan tercerabut dari akar historisnya. Apakah ini pilihan simalakama bagi perempuan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;B.Pembahasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Posisi tulisan ini hendak memberi perspektif kecil tentang relasi perempuan dan globalisasi. Kalau boleh mengajukan tesis, lebih objektif mengatakan bahwa globalisasi menciptakan sejenis kegalauan baru bagi perempuan daripada optimisme. Namun, sebelumnya, akan diletakkan masalah secara proporsional. Seraya saya akan menjelaskan sedikit tentang makna globalisasi dan selanjutnya meletakkan perempuan sebagai karakter baru semisal superhero Wonderwoman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Globalisasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam perspektif Herry Priyono, sepintas globalisasi bukan sekadar pemikiran yang kompleks. Namun globalisasi adalah sejarah kemanusiaan yang melintasi peradaban hari ini. Ada beberapa dinamika gerak dari globalisasi yang harus dipahami, sebagai berikut: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, globalisasi adalah fakta dan kondisi sejarah, bukan barang seperti televisi Sony atau tas Gucci yang begitu saja bisa diterima atau ditolak. Justru, karena ia kondisi sejarah, perdebatan pro dan kontra adalah perdebatan yang mandul. Itu mirip dengan dua mahasiswi jurusan komputer yang berantem apakah mereka perlu terampil menjalankan program dasar komputer.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, globalisasi bukan gejala alami, seperti musim semi dan gempa bumi. Ia gejala yang muncul dari praktik dan pemikiran manusia, seberapa pun kompleks proses yang membentuknya. Pokok ini rupanya sentral karena menganggap globalisasi sebagai gejala alami yang membawa kita ke dalam perangkap determinisme alam yang kosong dari sebab-akibat manusia. Tentu, mengatakan bahwa globalisasi merupakan hasil praktik/gagasan manusia tidak berarti corak globalisasi dewasa ini mudah diubah atau dimodifikasi. Akan tetapi, fakta tentang sulitnya mengubah atau memodifikasi corak globalisasi tidak bisa dijadikan dasar untuk bilang globalisasi sebagai gejala alami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, seperti halnya gejala lain dalam hidup manusia, globalisasi juga mengandung ambivalensi. Sebagai contoh analog, pesawat telepon bisa dipakai Pinochet mempercepat pelenyapan para penentangnya, tetapi bisa juga dipakai para penentangnya mengorganisasikan diri. Ambivalensi tak akan pernah muncul apabila soalnya tidak dipahami sebagai sebab-akibat tindakan manusia. Tetapi, itu juga hanya mungkin bila globalisasi dipahami sebagai produk kinerja berbagai dorongan yang menggerakkan praktik dan pemikiran manusia, seperti hasrat inovasi, hasrat diakui, ambisi, kekuasaan, dan sebagainya. Lugasnya, suatu gejala bersifat ambivalen jika, dan hanya jika, gejala itu melibatkan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keempat, ambivalensi globalisasi tidak akan lenyap. Sejarah ke depan akan ditandai semakin banyak ambivalensi. Dalam bahasa Paulo Coelho, penulis novel The Alchemist, "that is our human condition". Salah satu kunci untuk memahami mengapa globalisasi berisi banyak ambivalensi adalah terlibatnya perkara kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejatinya, konteks globalisasi dibicarakan dalam dua mazhab yaitu mazhab Davos dan mazhab Porto Allegre. Mazhab Davos adalah model globalisasi yang berkiblat pada World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, 23-28 Januari 2003. Seperti sebelumnya, di sana berkumpul para menteri ekonomi, bankir, financiers, akademisi, pengusaha, dan mereka yang lebih mewakili model globalisasi kapitalisme liberal. Mazhab ini pada dasarnya  disangga oleh perkawinan antara uang dan teknologi yang digerakkan terutama para pemilik modal finansial. Fakta bahwa kinerja mereka melibatkan hidup kita semua sama sekali tak berarti kita penentu jalannya globalisasi. Begitu pula, fakta bahwa kinerja mereka tak dimaksudkan untuk menciptakan watak globalisasi seperti yang ada dewasa ini, tidak berarti mereka bukan pelaku globalisasi. Ia berlangsung dalam setting kian keramatnya hak milik dan hak guna pribadi (the sanctity of private property). Seperti diketahui, kian keramatnya hak milik pribadi atas modal finansial, berbanding lurus dengan kian pudarnya "misi" sosial modal finansial bagi kesejahteraan bersama (common welfare). Itulah mengapa bisa dikatakan, yang terjadi saat ini merupakan corak globalisasi yang berdiri di atas agenda untuk melepas kinerja kekuasaan dan mobilitas modal finansial dari proses survival mayoritas warga dunia yang tidak memiliki uang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan mazhab Porto Allegre adalah globalisasi versi alternative. Mazhab ini disebut World Social Forum (WSF). Istilah "sosial" (the social) dipakai bukan dalam pengertian latah yang beredar di dunia bisnis, yaitu sebagai lawan "ekonomi" (the economic). Ia dipakai untuk menunjuk agenda globalisasi inklusif yang seharusnya terjadi, termasuk globalisasi ekonomi. Di forum itu berkumpul jaringan gerakan akademisi, intelektual, lingkungan hidup, buruh, petani, pengusaha, dan sebagainya yang melihat kejanggalan corak globalisasi dewasa ini. Mazhab ini mendorong agenda globalisasi yang lebih berkeadilan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, mencermati dua mazhab globalisasi ini mengharuskan kita memilih jalan globalisasi yang tepat dan mengkritik globalisasi yang sesat. Sebab globalisasi yang sesat akan menyesatkan dan memangsa siapa pun, tanpa mempertimbangkan jenis kelamin. Bahkan, perempuan cenderung menjadi santapan yang empuk.  Siapa yang akan menjadi pejuang?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perempuan-perempuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjadi perempuan adalah menjadi manusia yang harus kuat dan tidak boleh diam. Diam berarti kematian. Ini lantaran peradaban manusia berakar dari patriarkhi. Dalam Titik Balik Peradaban digambarkan bahwa kegelapan peradaban manusia digembosi oleh paradigma mekanistik dan ideology patriarkhi. Akibatnya, perempuan kehilangan tempat dalam sejarah. Namun, dominasi ideology patriarkhi tidak  dapat menghalangi lahirnya perempuan-perempuan hebat yang menunjukkan peran social mereka melebihi peran kaum lelaki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada perempuan yang lahir dalam imajinasi dan beberapa benar-benar adalah figure yang nyata. Perempuan terhebat dalam imajinasi kreatif Pramudya Ananta Toer adalah Nyai Ontosoroh. Perempuan ini digambarkan dalam Bumi Manusia sebagai perempuan tangguh dan mandiri yang mendidik Annalies menjadi perempuan tabah. Prototype Nyai Ontosoroh menjadi prototype perempuan Indonesia masa colonial yang mencoba melampaui sejarah perempuan yang tidak memiliki keberanian berpikir merdeka. Nyai Ontosoroh meretas tradisionalisme perempuan ketika dia Ia berkata kepada Annalies “kita telah melawan, sebaik-baiknya perlawanan”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maxim Gorki pun menulis novel yang diterjemahkan dengan judul Ibunda dan mengimajinasikan sosok perempuan hebat yaitu sosok Ibunda yang mengawal sebuah revolusi di Rusia. Ia menemani anaknya berjuang mewujudkan revolusi kaum buruh, walau Ibunda harus dipopor senjata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imajinasi Pram maupun Gorki tak lebih sebuah kepedulian terhadap perempuan. Namun, boleh jadi Pram dan Gorki juga memiliki kerinduan dan harapan akan lahirnya perempuan kuat, yang lazim dalam sejarah hanya bisa diam dan menerima nasib. Boleh jadi imajinasi Pram pula adalah kritik terhadap perlakuan Orde Lama dan Orde Baru terhadap perempuan yang cenderung diperlakukan secara colonial. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sejarah Islam yang diceritakan melalui Alquran dan Alhadits terdapat beberapa tokoh perempuan yang sangat luar biasa. Alquran menceritakan tentang Siti Maryam, Ibunda nabi Isa AS. Ia adalah perempuan shalehah yang menjaga diri dan rajin berpuasa. Ia adalah perempuan yang penuh dengan kesucian sehingga Allah menganugrahi beliau makanan yang berkecukupan dan seorang putra yang menjadi nabi bagi umat di zamannya. Alquran juga merekam kehebatan istri Firaun, Asiah, yang tetap beriman kepada Allah walau Ia hidup di tengah kekuasaan yang zhalim dan kafir. Belum lagi kebesaran dan kebijaksanaan Ratu Balqiz dalam menerima agama tauhid nabi Sulaiman. Terakhir, Alhadits juga memotret ketangguhan Fatimah dalam mempertahankan hak miliknya, tanah fadak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di era modern, banyak perempuan yang menjadi figure. Benazir Bhutto, mantan Perdana Menteri Pakistan, yang memimpin Negara yang mayoritas penduduknya masih konservatif dan belum menerima kepemimpinan perempuan. Ia meretas tabu itu dan di akhir hidupnya menjadi korban bom dan penembakan kaum fundamentalis. Megawati Sukarno Putri, Ia menjadi presiden pertama perempuan di Indonesia di tengah fatwa haramnya kepemimpinan perempuan. Angela Merkel, Kanselor Jerman sekarang memperlihatkan kemampuannya memimpin Negara Eropa yang sangat besar.      &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarah perempuan adalah sejarah yang unik. Walaupun sedikit ditemukan perempuan yang membebaskan diri dari penjara masyarakat dan penjara sejarahnya. Karakter perempuan yang kuat hanya satu tipe yaitu perempuan yang memiliki prinsip dan berjuang dengan prinsip itu. Ia kemudian berbeda dalam peran karena berbeda ruang dan waktu. Ada perempuan yang melawan kultur konservatif yang mapan di tengah masyarakatnya seperti Benazir Bhutto dan Megawati. Ada perempuan yang menjaga prinsip tauhidnya di tengah kekuasaan tiran yang zhalim seperti Asiah. Ada perempuan yang memimpin sebuah Negara di era globalisasi yang telanjang seperti Angela Merkel. Pada akhirnya, perempuan selalu dikembalikan pada wajahnya yang imajiner semisal Nyai Ontosoroh dan Ibunda. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terakhir, apakah perempuan memanfaatkan globalisasi atau lebih cenderung dimanfaatkan. Kalau perempuan memanfaatkan globalisasi, tesis ini mengandaikan bahwa perempuan telah berada dalam posisi yang aman. Perempuan dengan semua kelebihan, kecerdasan dan kekuatannya berkompetisi dalam kancah global. Tentu dengan target prestasi dan profesionalisme. Perempuan harus dibangunkan dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin sebagaimana manusia-manusia ekonomi lainnya untuk tampil sebagai pemenang. Namun, tesis ini benar-benar meragukan karena kondisi factual perempuan yang masih rentan dan dilemahkan secara ekonomi, politik, social dan budaya. Sebuah kondisi yang telanjang di depan kita. Masih banyak perempuan yang bodoh dan tidak memiliki akses social. Perempuan hanya menjadi lipstick zaman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tesis kedua adalah perempuan dimanfaatkan oleh Globalisasi. Tesis ini mengandaikan perempuan sebagai korban. Paling tidak, perempuan hanya dapat defensif dari gempuran badai globalisasi berwajah Kapitalisme. Yah, perempuan akhirnya menjadi objek pasar dan seksualitas. Fakta ini dapat disaksikan dalam media.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;C.Kesimpulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks hari ini, perempuan harus menunjukkan dirinya sebagai penyelamat bangsa. Perempuan hanyalah sebuah jenis kelamin. Perempuan pun dapat menjadi bagian dari blok intelektual-historis-pembaharu. Inilah tanggung jawab kemanusiaan. Apalagi ketika globalisasi ternyata lebih mengarah kepada keuntungan segelintir orang  dan semakin jauh dari kesejahteraan bersama. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perempuan adalah titik sengketa dan arena perang perebutan supremasi symbol. Perempuan terkadang disanjung, namun acapkali pula diremehkan. Perempuan adalah wajah ambivalensi nilai dalam sejarah manusia yang patriarkhi.  Hampir saja semua peradaban memojokkan perempuan dan boleh jadi, inilah tragedy terbesar di sepanjang sejarah kemanusiaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa perempuan dimarjinalkan oleh sejarah. Padahal tidak ada keniscayaan akan kebenaran patriarkhi. Keterpojokan perempuan tidak lebih disebabkan kuasa raung yang dominant dan keterjebakan perempuan sendiri. Perempuan harus berangkat dari titik kesadaran objektif nya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meminjam gerak sejarah hegel, sejarah manusia selalu bergerak menuju utopia kebebasan. Demikian pula, peradaban akan tiba di titik kesetaraan gender. Perempuan harus mencari hakikat keperempuanannya yang tidak dikonstruksi oleh kebudayaan, apalagi globalisasi. Tugas terakhir perempuan di tengah arus globalisasi adalah meraih utopia keperempuanannya.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Referensi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gadis Arivia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Herry B. Priyono&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-4254265039753508762?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/4254265039753508762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=4254265039753508762&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/4254265039753508762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/4254265039753508762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/01/perempuan-dan-globalisasi.html' title='Perempuan dan Globalisasi'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWq03PeoXXI/AAAAAAAAAKI/kcztRCRSZXE/s72-c/bb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-54945680708202574</id><published>2009-01-12T09:57:00.003+07:00</published><updated>2011-12-29T20:45:32.325+07:00</updated><title type='text'>Tugas Cendekiawan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWxbz9xoP_I/AAAAAAAAAK4/turZDfbjzzM/s1600-h/Episode.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290704610567667698" src="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWxbz9xoP_I/AAAAAAAAAK4/turZDfbjzzM/s320/Episode.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 139px; margin: 0 0 10px 10px; width: 121px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;EPISODE KECIL&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tugas Cendekiawan Muslim&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini nostalgia aku delapan tahun silam. Aku mengenalnya secara tidak sengaja, entah milik siapa. Yah, aku kali ini memilikinya. Aku menemukannya ketika bersiar ke Book Fair di Gedung Baginda Aziz Chan Padang bersama sahabat jiwaku. Aku membelinya dengan harga yang terjangkau. Tugas Cendekiawan Muslim, sebuah buku karya Ali Shariati. Buku ini diterjemahkan oleh M. Amin Rais. Buku ini, walaupun mungil, menggerakkan seluruh kemanusiaanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku terkesan dengan analisis sosial Ali Shariati. Dalam perspektifnya, masyarakat dapat ditinjau secara piramidik. Pada lapisan bawah terdapat kaum massa. Lapisan di atas massa terdapat kaum intelektual. Pada puncak piramida terdapat kaum Roushanfikr. Kaum Roushanfikr adalah kaum yang progresif-kreatif yang menentukan sebuah revolusi peradaban. Maka menjadilah seperti mereka. Sebab mereka ibarat bintang terang di langit malam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Silaturrahim Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selasa (23/12/2008) Aku bersilaturahim ke program studi Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas. Ini kunjungan perdanaku. Aku diterima dengan hangat oleh Ibu Dewi, Mia dan Rona. Mereka adalah rekan-rekan dosen komunikasi. Tak berapa lama, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, DR. Asmawi, MS, pun datang. Dia adalah sosok yang lembut. Ia berwibawa, baik dan menyejukkan. Ia menyapaku dengan sopan. Semoga ini menjadi abadi. Akhirnya, semoga ke depan saya dapat memainkan peran sebagai dosen komunikasi yang hebat. Amin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asa Secerah Mentari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berada di kaki langit, di penghujung waktu 2008. Sebuah moment reflektif menuju sejarah baru. Semoga tak menjadi tragis. Akhir tahun 2008 ini merintih disambut dua tahun baru; tahun baru Islam, 1 Muharram 1430 H dan tahun baru masehi, 1 Januari 2009. Aku bersaksi di dua tahun baru ini, benar-benar berhijrah menuju suatu hakikat kemanusiaan. Meraih yang pantas diraih, dan bermimpi setinggi-tingginya. Ini awal kreatifitas dan kemerdekaanku. Sebab hidup harus bermimpi dan memilih.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1430 H bagiku harus menjadi tahun berhijrah. Sebab Islam mengisyaratkan komitmen hijrah di setiap akhir tahun. Aku akan berlari sekuat tenaga, berhijrah menjadi seorang muslim yang bijaksana, menjadi filsuf Islam yang berkelas. Aku berjanji meloncat estetis dari satu langit menuju langit yang lebih biru. Aku akan terlibat dalam menggagas, mendesain dan menyegarkan nalar, hasrat dan struktur masyarakat madani yang egaliter dan profetik. Peran social ini harus menjadi tugas utamaku sebagai cendekiawan muslim. Saya harus lahir sebagai Roushanfikr yang menerabas batas kepicikan dan meretas kejumudan zaman. Saya hidup sebagai manusia berdimensi social, memberi sebanyak-banyaknya untuk ummat dan bangsa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 2009 ini menjadi tahun metamorfosis. Sebab manusia mencintai perubahan dan tak ada yang tak berubah di semesta raya ini. Sebuah perubahan yang bermakna. Aku berhasrat menjadi penulis besar. Aku akan menuliskan ide perubahan, kritik social, nalar waktu, sejarah kemanusiaan, tragedy peradaban, komedi hidup, dan semua kegelisahanku. Aku akan merancang Jurnalisme Baru, Kajian Media, Etos Media dan Spirit Komunikasi tahun 2009. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku akan lahir sebagai seorang pakar di bidang Komunikasi, Sosial-Politik dan Media yang memiliki latar Filsafat Manusia. Aku akan hidup di tahun ini sebagai seorang filsuf dan penulis hebat. Aku harus menunjukkan diriku sebagai manusia yang ingin bermakna dalam sejarah. Sebab sekali lagi, sekali hidup harus bermakna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebab aku memilih menjadi filsuf dan penulis agung, maka aku mencoba hidup sederhana namun bermimpi besar dan memulai menuliskan setiap waktu yang berlalu. Aku memikirkan arah sejarah kemanusiaan dan berkarya menulis beberapa buku, sekian artikel dan kolom waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yah, tahun ini pula adalah tahun membaca. Sebagai filsuf dan penulis, maka aku harus membaca yang banyak dan menjadi pembaca yang baik. Maka sejak tanggal 1 Muharram 1430 H dan 1 Januari 2009 hingga 1 Muharram 1431 dan 1 Januari 2010, aku akan menjadi filsuf, penulis dan pembaca. Maka semua harus dimulai dari yang sederhana. Sebab tak ada sesuatu kecuali kesederhanaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padang Ilalang, 28 Desember 2008&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun Baru 2009 di Kota Padang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya menyaksikan perayaan tahun baru 2009 di kota Padang. Sangat meriah dalam bunyi terompet dan tumpahan manusia. Apa makna tahun baru? Saya rasa beragam ekspresi manusia. Namun, kualitas intelektual sangat berkaitan dengan model ekspresi tahun baru. Ada yang menangis, demonstrasi Palestina, bahkan ada pula yang meneguk minuman keras, sambil berdansa ria diselingi musik diskotik. Sah-sah saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walau bagaimanapun, manusia membutuhkan penanda-penanda dalam waktu. Kira-kira, sebuah titik ingatan agar waktu yang berlari dapat dikenang secara berbeda. Dalam moment tahun baru, manusia penting mengingat tahun kemarin. Sebuah refleksi kecil semoga tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya, beragam ekspresi hanya penampakan lahir dari nilai batin. Saya pikir semua yang merayakan tahun baru adalah orang-orang yang berharap dan sedang menunggu kedatangan, menunggu sebentuk kebaikan. Yah, menunggu misteri tahun ini. Dan semogalah Tuhan berbaik hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komunikasi Bahaya Narkoba&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku pikir semua telah tahu akibat negative dari drug. Mengaburkan akal sehat sehingga menghilangkan kemanusiaan. Sabtu (3/01/2009) aku hadir sebagai peserta di pendidikan dan pelatihan penyuluhan anti narkoba bagi generasi muda yang diadakan oleh Granat (Gerakan Anti Narkoba) Sumbar di jalan Permindo kota Padang. Aku datang untuk melihat bagaimana model komunikasi yang ditumbuhkan dalam forum. Aku juga ingin mengamati bagaimana strategi komunikasi para penyuluh anti narkoba yang terdiri atas; seorang dokter ahli dari FK Universitas Andalas, AKBP Suhefril dari Polda Sumbar, dan Novi mewakili DPD Granat Sumbar. Sang dokter mengamati dari segi kesehatan. Sang Polisi dari segi hukum dan wakil DPD Granat dari segi konsolidasi organisasi dan spirit melawan narkoba. Aku datang sebenarnya sebagai seorang peneliti kecil-kecilan tentang model dan strategi komunikasi anti narkoba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ke depan, aku harus merancang sebuah model dan strategi komunikasi anti narkoba yang relevan dengan semangat generasi muda. Model dan Strategi komunikasi yang tepat akan membuahkan pemahaman yang bernas sehingga generasi muda dapat diselamatkan dari kesenangan semu yang menyirnakan potensi dan masa depan mereka. Viva forever Komunikasi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padang Ilalang, 3/01/2009&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mawar Langit&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikau mawar semerbak di taman langit. Apalagi yang harus kutulis untukmu. Semua dimensi telah memilikimu. Maka aku hanya mengagumi keelokanmu. Bertasbih. Aku telah kehabisan kata mengungkapmu. Dikau telah menjelma dalam waktu dan ruang. Sehingga aku hanya bisa terjebak. Aku tak punya tempat dan kesempatan berlari kecuali menjumpaimu di setiap sudut kota-kota indah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudahlah, cintaku dalam diri sepertinya hanya untukmu. Sebab aku tahu, cintamu tulus. Aku hanya selalu dihunjam oleh khawatir, tak sempurna mencintaimu. Seperti harapmu. Tapi sekali lagi, aku benar-benar tahu dikau mendengarku, menyanjungku dan menyayangku. Walau, aku kadang melihat kemarahan kecilmu. Tapi aku tahu, kemarahanmu pun adalah nama lain dari cintamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untukmu yang memintaku tentangmu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padang Ilalang, 31 Desember 2008&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cepat Menuju Tuhan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku yang harus cepat. Hidup ini harus cepat. Sebab Islam pun meyakinkan umatnya untuk bercepat-cepat menuju ampunan Tuhan dan surga-Nya. Betapa, banyak yang harus dikerjakan dan dituntaskan. Berlamban-lamban tak akan banyak membantu. Sebab itu,  tak ada pilihan laian kecuali harus cepat. Apalagi jika cepat menuju tujuan yang tepat. Inilah hakikat gerak, dari sebuah titik menuju titik yang sangat tepat. Gerak harus beranjak dari noktah profane menuju noktah transenden.   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku benar-benar hendak menjadi penulis cinta keduanya. Dan semua harus ditulis sejak hari ini (Thaufan)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah kisah cinta dua sahabatku. Satu dimabuk cinta, yang kedua dijatuhi cinta. Namun keduanya bercerita penuh gelora, “ Hidup hanya keindahan.” Mereka mengenal cinta yang sejati. Benar-benar sejati. Mereka hanya ingin memberi terbaik untuk kekasih. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasa-rasanya manusia hidup hanya untuk mencinta. Setiap detik hanyalah cinta. Sejatinya, hanya cinta yang menggerakkan semesta ini, hingga tanpa cinta niscaya semesta akan hancur berkeping-keping.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namanya Syamsul Bahri. Ia mencintai seorang perempuan. Wajar saja, soalnya ia lelaki. Namun aku memberi perspektif khusus demi kebaikan cinta dia, tentang posisi seorang pejantan tangguh. Seorang perkasa seperti dia sebenarnya tak boleh jatuh cinta. Seorang pria harus kuat, tangguh dan berani sendiri. Itulah hakikat pria. Namun, ketangguhan pria akan hancur ketika ia jatuh cinta. Jadi, tak boleh jatuh cinta kecuali dijatuhi cinta. Itu pun dengan alasan yang cukup. Ia harus merasionalkan, mengapa harus mencintai hanya dia. Ia bingung, aku tertawa dalam hati. Yah ialah, seorang pria harus mencintai pada saat yang tepat dengan sasaran yang tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lain lagi dengan Eghil. Ia tulus dan siap menderita. Kaget ketika dijatuhi cinta. Sebab cinta baginya masih demikian asing. Sebab itu, ia merasa setiap hari adalah kebahagiaan. Apalagi ketika bertemu dengan kekasih hatinya. Tak diragukan, cinta memang melukai dan membuat sesak plus sedikit tersesat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Kato Balega bersama Prof. Mestika Zed&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah ruang public perdanaku bersama Prof. Mestika Zed, seorang sejarahwan hebat. Belum lagi, forum ini dihadiri para budayawan, intelektual dan eks birokrat masyhur se-Sumatra Barat. Tak percaya, aku diundang oleh Bang Edi Enrizal ketika bertemu dengan beliau di Fisip Unand kemarin. Beliau adalah orang yang bersahaja. Semoga saja, beliau menjadi sahabatku kelak. Di forum sederhana dimana ada kemerdekaan ini, aku datangi bersama sahabatku, Henri (guru SMU).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diskusi dimulai pukul 09.00 malam dengan paparan intelektual Mestika Zed tentang Indonesia pasca 100 tahun Kebangkitan Nasional. Mestika mengatakan bahwa Indonesia didesain secara perlahan oleh Tan Malaka dalam buku tentang Republik, Hatta dalam surat pembelaan di Belanda tentang Indonesia Merdeka dan Sukarno dalam Menuju Indonesia Merdeka. Mereka bertiga ditakzim sebagai the Founding Fathers. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, ketika Indonesia menjadi ahistoris hari ini, siapa yang harus disalahkan. Alih-alih, komponen bangsa membangun Indonesia tapi malah mendekonstruksi Indonesia jauh dari cita the Founding Fathers. Maka jalan terbaik dari kondisi seperti ini meniscayakan penyikapan serba darurat (sense of emergency and urgency).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pandanganku yang rabun, penyelamatan Indonesia harus dilakukan oleh kelas menengah sebab mereka dapat mempengaruhi nalar massa rakyat. Namun, faktanya terlihat kelas menengah terfragmentasi dalam banyak kepentingan. Olehnya, kelas menengah perlu disatukan pada satu visi untuk membentuk blok histories pro-perubahan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak dimungkiri, masih ada pihak yang belum benar-benar ikhlas untuk sebuah perubahan yang menyelamatkan Indonesia. Siapa mereka? Mereka adalah kaum status quo yang diuntungkan dengan kondisi buruk hari ini. Mereka harus disadarkan oleh kelas menengah dengan kekuatan massa rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping itu, kelas menengah harus mencari momentum dan bahasa baru untuk sebuah perubahan. Terminology reformasi harus segera ditanggalkan sebab reformasi hanya menjadi kuda tunggangan pahlawan palsu dan kendaraan para penumpang gelap. Sebab reformasi tak suci lagi, diperkosa status quo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika reformasi masih menjadi idealitas, tentu saja meniscayakan Indonesia yang ahistoris. Belum lagi, terpaan globalisasi yang memporandakan cita the founding Fathers. Boleh jadi ke depan, Indonesia harus dirayakan sebagai Negara tanpa sejarah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih berharap di tengah gelap ini, Indonesia kita adalah Indonesia yang demokratis dan tabah dari jerat globalisasi gila.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemah Bakti Mahasiswa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemarin, aku bersama Andre dan bang Dedep (keduanya dosen Fisip Andalas) mengunjungi mahasiswa Fisip di Sicincing Pariaman. Aku bersilaturahmi dengan para mahasiswa yang berkemping ria seraya melakukan penelitian kecil-kecilan di tengah masyarakat nagari Sicincing Pariaman. Mereka riang gembira meneliti tentang system pemerintahan, kekerabatan dan pendidikan di nagari. Penelitian mereka luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menanggapi tiga tema penelitian mereka yakni terkait system pemerintahan local, pendidikan dan konflik etnis. Dalam system pemerintahan, aku menyebutkan Nagari sebagai keunggulan social dari pemerintahan local di Sumatra Barat. Hanya saja, seberapa otentik nagari dan seberapa relevan dengan tesis demokrasi yang efektif dan efisien? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkait dengan pendidikan, masyarakat Minang oleh sejarahwan Kahin disinyalir sebagai suku dengan tingkat pendidikan yang maju di nusantara ini. Walaupun, terdapat daerah dengan tingkat pendidikan rendah di Sumatra Barat, tetapi tentu tidak separah pendidikan di Nusa Tenggara Barat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di konteks lain, pendidikan harus menemukan tujuannya sebagai upaya menjadi manusia. Pendidikan bukan sekadar mencari kerja, namun humanisme sejati. Pendidikan mengajarakan kita membangun kebersamaan arti menyamakan persepsi sebagai manusia simbolik-humanis. Jika pendidikan tiba di titik kemanusiaan universal ini, maka konflik etnis tidak akan terjadi. Walaupun, kemiskinan harus dikendalikan sebagai akar setiap konflik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padang Ilalang, 29 Desember 2008&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Fisik mempengaruhi semuanya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir-akhir ini aku merasa fisik ini kurang bersahabat. Ia kurang tegar dan fit. Aku selalu berharap ke depan, fisik ini semakin sehat untuk lebih maksimal mengemban amanah. Ini harus kutulis, sebab kondisi fisik yang menurun ini ternyata begitu mempengaruhi semuanya. Bahkan, persoalan kecil pun dapat berlama-lama karena kondisi fisik yang kurang baik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemarin, aku berada dalam dilemma besar. Apakah saya harus melanjutkan S2 filsafat Islam saya di Icas-Paramadina atau focus saja dengan kajian komunikasi. Saya sejatinya telah mengikhlaskan semuanya di Icas-Paramadina dengan segunung maaf kepada para Gurunda saya di Icas-Paramadina. Saya berharap kajian komunikasi saya berkembang konsisten dan relevan. Yah. Aku ingin menjadi pakar di bidang komunikasi. Sebab itu, aku hanya ingin melanjutkan studi di kajian komunikasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untung saja, si Dev menelpon aku. Dia menguatkan aku dan memastikan pilihanku untuk focus di kajian komunikasi. Ya Allah aku berupaya dan bertawakkal. Berilah aku jalan terbaik. Amin Mujibassailin.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-54945680708202574?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/54945680708202574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=54945680708202574&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/54945680708202574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/54945680708202574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2009/01/episode-kecil-tugas-cendekiawan-muslim.html' title='Tugas Cendekiawan'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWxbz9xoP_I/AAAAAAAAAK4/turZDfbjzzM/s72-c/Episode.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-6201033246718616720</id><published>2008-12-20T15:20:00.005+07:00</published><updated>2011-12-29T20:46:02.381+07:00</updated><title type='text'>Bulaeng dan Jurnalis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWBTpN7e7fI/AAAAAAAAAJ4/3u9L1ozWEEQ/s1600-h/Journalis.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287317930111856114" src="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWBTpN7e7fI/AAAAAAAAAJ4/3u9L1ozWEEQ/s200/Journalis.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 99px; margin: 0 0 10px 10px; width: 99px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;AR. Bulaeng&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku lagi lelah untuk menulis. Jadi, singkat saja kutorehkan sikapku. Aku, selayaknya mahasiswa Komunikasi Unhas, juga bersedih dengan kematian Gurunda Bulaeng. Beliau adalah penasehat akademik bagi aku ketika kuliah di Unhas. Suatu ketika, hanya ada aku dan Dia, beliau bertanya kepadaku, "bagaimana kamu memastikan buku ini romantis?" Aku terdiam. Ia lalu berkata, "Kalau buku ini berisi kata cinta di atas 50%, maka buku ini pasti romantis". Ia mengajariku riset isi-kuantitatif. Dalam sesi kuliah, Ia berkata," Manusia dari perspektif psikologi komunikasi memiliki kepribadian anak-anak, dewasa dan orang tua. Manusia cerdas harus dapat memerankan semua tipikal ini dalam moment yang tepat."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yah, beliau telah tiada. Semoga Allah merahmatinya. Semoga Allah memberikan aku spirit  kearifan selayaknya beliau. Amin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jurnalis &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku membacanya lewat koran Singgalang dan Padang Ekspress. Namanya Muntazar Al-Zaidi. Ia telah menuliskan berita unik dan populis melalui kedua sepatunya. Ia memperjelas keberpihakannya kepada rakyat Irak. Ia meremehkan Bush dengan sepatu pertama berisi umpatan Anjing dan sepatu kedua dengan tangisan janda dan yatim di Irak. Kabarnya, sepatu itu bernilai Milyaran rupiah. aku bertanya,"apa yang bergejolak di benak Al-Zaidi sebelum Ia mengambil keputusan melemparkan kedua sepatunya"? sejatinya, Ia telah menuliskan namanya dalam sejarah jurnalisme.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-6201033246718616720?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/6201033246718616720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=6201033246718616720&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6201033246718616720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6201033246718616720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/12/bulaeng-dan-jurnalis.html' title='Bulaeng dan Jurnalis'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SWBTpN7e7fI/AAAAAAAAAJ4/3u9L1ozWEEQ/s72-c/Journalis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-6729809328126927026</id><published>2008-12-02T23:38:00.009+07:00</published><updated>2011-12-29T20:46:22.905+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Dosen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/ST4GpcO4hYI/AAAAAAAAAJw/ZbCXv_6QPNw/s1600-h/topan.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277663122347820418" src="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/ST4GpcO4hYI/AAAAAAAAAJw/ZbCXv_6QPNw/s200/topan.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 88px; margin: 0 0 10px 10px; width: 126px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini perihal mimpi Sang Alkemis mencari harta karunnya. Saya adalah Alkemis yang bermimpi menjadi dosen. Saya pun banyak berdoa kepada Tuhan. Maka ketika saya mendapat kabar dari sahabat saya, Humaidi, di kota Padang bahwa Universitas Andalas sedang membuka kesempatan menjadi dosen maka saya merasa waktunya telah tiba. Saya akan menjadi dosen di Ranah Minang, Bumi Negarawan dan Intelektual. Doa harus diterjemahkan dalam gerak. Doa tidak boleh hanya tergantung di langit. Doa ketika diucapkan maka niscaya menjadi nyata dalam ikhtiar manusia. Saya pun berangkat, dalam restu orang-orang dekat dan ICAS-Paramadina, dari Jakarta menuju Padang dengan dana yang terbatas pada tanggal 6 Oktober 2008. Beberapa hari setelah Lebaran Idul Fitri. Semoga semua kembali Fitrah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syarat awal menjadi dosen Ilmu Komunikasi harus berkualifikasi Magister Ilmu Komunikasi. Namun, minat terhadap program studi baru di bawah departemen Sosiologi Fisip Universitas Andalas ini sangat rendah. Magister yang mendaftar hanya satu orang. Kualifikasi pun diturunkan. S1 mendapat kesempatan. Ada tujuh orang sarjana S1 yang mendaftar. Akhirnya, total pendaftar untuk menjadi dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas berjumlah delapan orang dari berbagai institusi terkemuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya mendaftar pada tanggal 7 Oktober 2008. Test pertama terdiri dari Test Pengetahuan Umum dan Bakat Skolastik berlangsung pada tanggal 15 OKtober 2008. Saya merasa mengerjakan soal dengan baik. Saya telah belajar jauh hari sebelumnya. Saya telah memanfaatkan waktu dengan cepat dan tepat dalam menjawab soal. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengumuman lulus test pertama pada tanggal 30 Oktober 2008. Test selanjutnya adalah test subtantif tentang kajian Komunikasi dan test wawancara yang berlangsung pada tanggal 6 November 2008. Saya merasa diberi kemudahan oleh Tuhan menjawab soal test subtantif, baik pilihan ganda maupun essay. Saya bahkan sempat menulis dengan cepat sembilan elemen Jurnalisme Bill Kovach dalam sebuah essay. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentang test wawancara, saya telah mempersiapkan diri secara emosional dan performance. Namun, saya tetap saja gugup. Saya telah memplontos rambut dan mengenakan dasi. Namun, tetap saja saya berada dalam kekhawatiran. Khawatir tidak dapat menjalani wawancara dengan baik. Padahal, saya telah membeli sebuah buku panduan wawacara beberapa hari sebelumnya di Gramedia. Saya kembali berdoa dan bertawakal kepada-Nya. Dan akhirnya, saya melakukannya dengan baik. Aku bersujud memuja-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengumuman akhir kelulusan di Harian Singgalang pada hari sabtu, 29 November 2008. Nama saya, Muhammad Thaufan A tertera di urutan kedua dari atas. Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Moment ini kupersembahkan kepada Ibuku, almarhum Ayahku, almarhum Kakek dan Nenekku, saudara-saudariku, semua kerabatku, sahabat-sahabatku, guru-guruku dan semua manusia hebat di muka bumi ini; Rasulullah dan Keluarganya, Syaikh Burhanuddin, Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, Datuk Patimang, Bung Hatta, Tan Malaka, Buya Hamka, Muhammad Natsir, Syafi’I Maarif, Gurutta’ As’ad Sengkang, Gurutta' Ambo Dalle, Gurutta’ Abduh Pabbaja, Gurutta’ Ambri Said, Gurutta’ Yunus Maratan, Gurutta’ Daud Ismail, Gurutta’ Wahab Zakariya, Gurutta’ Farid Wajdi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berharap amanah ini dapat saya pertanggungjawabkan. Smoga Allah Rahman Rahim merahmatiku, menganugrahiku kesehatan yang sempurna dan kecerdasan yang bermanfaat. Amin Mujibassailin.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-6729809328126927026?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/6729809328126927026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=6729809328126927026&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6729809328126927026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6729809328126927026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/12/menjadi-dosen.html' title='Menjadi Dosen'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/ST4GpcO4hYI/AAAAAAAAAJw/ZbCXv_6QPNw/s72-c/topan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-851514293381777323</id><published>2008-09-14T21:58:00.000+07:00</published><updated>2011-12-29T20:46:45.834+07:00</updated><title type='text'>TADARRUS RAMADHAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SM0q9YLe6MI/AAAAAAAAAHM/qwju1J1c2Bc/s1600-h/Fanon.jpeg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245896374907496642" src="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SM0q9YLe6MI/AAAAAAAAAHM/qwju1J1c2Bc/s200/Fanon.jpeg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TADARRUS RAMADHAN &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BYE BYE &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menuju CCF Salemba. Aku hendak menyaksikan Prancis dari dekat lewat sinema Prancis. CCF menyajikan menu bye bye. Ini adalah film Prancis. Film ini bertutur tentang petualangan dua saudara yang berlatar imigran Tunisia. Tapi Tunisia juga sepertinya seolah Prancis. Dua saudara ini menuju Marseille, berkunjung ke handai taulan. Di sana, salah seorang dari keduanya terjebak dengan jejaring narkoba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tensi film ini berada di titik-titik dan sudut-sudut marjinal Marseille. (CCF, Salemba)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Politik Islam Ibnu Taimiyah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Taimiyah adalah pemikir Islam yang meniscayakan agama dan kekuasaan. Sebab hanya kerjasama antara keduanya sehingga kebenaran yang lurus dan absah dapat ditemukan. Ibnu Taimiyah adalah semangat kehebatan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cak Nur menguak Ibnu Taimiyah sebagai pemikir yang kritis, berani, bernas nan empiris. Cak Nur melihat Islam yang cemerlang dalam pemikiran Ibnu Taimiyah dalam menggugat zamannya. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa 60 tahun di bawah kuasa pemimpin buruk lebih baik ketimbang sejenak tanpa pemimpin. Atau ketika Ia berkata bahwa hatta nabi pun tidak maksum dalam kasus tertentu. Atau ketika Ia menolak supremasi Ahlul Halli wal Aqdi dan merekomendasikan Ahlus Syaukah yakni representasi pemimpin komunitas. Inilah latar kritis Ibnu Taimiyah yang menarik Cak Nur untuk menyempatkan diri mengutip Taimiyah dalam setiap papar intelektualnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, boleh jadi Cak Nur berlindung di balik supremasi puritanisme Taimiyah sebab konteks masyarakat Indonesia yang strukturalis nan formalis. Dan Taimiyah mengobati kerinduan epistemologis kaum fundamentalis dan kaum seolah-olah. (Utan Kayu, 68H)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persepolis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I. Aku beranjak lagi sebagai petualang yang terlambat di semesta raya ini. Aku berkunjung ke Komunitas Salihara. Tiba pukul empat sore. Aku segera menuju ruang sinema. Aku akan menonton film yang berjudul Persepolis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persepolis adalah film animasi karya sutradara Vincent Paronnaud dan Marjane Satrapi. Film ini diangkat dari sebuah novel grafis karya Marjane Satrapi berlatar pergolakan politik di Iran yang berujung Revolusi Islam pada 1979.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film ini berkisah akan gadis kecil bernama Marjane. Latar keluarga yang Komunis dan merasa memiliki Revolusi penggulingan Rezim Shah, akhirnya membuat ia dan kelurganya menjadi incaran pemerintahan Islam. Ia mengungsi ke Wina hingga dewasa. Setelah balik ke Iran, suasana makin berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam benak saya, film ini tentang kritik kaum liberal terhadap otoritas agama di Iran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;II. Pasca buka puasa, sesi diskusi tentang relasi Islam dan Seni Rupa oleh Adi Wicaksono dan Acep Zamzam Nur. Adi bertutur tentang seni kita yang formalis. Sedang acep terus berkarya tanpa harus peduli agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gunawan Muhammad memberi kata bahwa larangan seni rupa yang bersifat Visual dalam Islam berawal dari peristiwa hasrat Musa bertemu dengan Tuhan di Bukit Turisina di mana lembahnya terdapat Patung Emas Yahudi. Ia berkata lagi bahwa hatta Kristen pun tidak mengharuskan seni sebagaimana nyatanya. Namun seni rupa visual yang religius adalah hasrat dan kerinduan transenden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bertanya, ”Kalau Islam memiliki hambatan legitimasi teologis sedari awal terhadap seni rupa visual, dan Kristen memberi legitimasi sedari mula. Apa tidak mungkin pasca Islam mencari legitimasi esoteriknya lewat pemikir seperti Fritchof Schuon dan Sayid Hossein Nasr, seni rupa visual Islam ini adalah kelanjutan episode dari seni rupa kristen? (Komunitas Salihara)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Politics of the Veil&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku diskusi lagi di Freedom. Diskusi tentang buku yang ditulis oleh Joan Wallach Scott, seorang pakar sejarah Prancis. Ia bercerita tentang Politik Jilbab selayaknya di Prancis.  Pembicara adalah Ihsan Ali Fauzi yang dipandu oleh Hamid Basyaib.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hamid bertutur tentang latar Prancis yang sekuler dan mengharuskan warga negaranya untuk tidak menampakkan secara menyolok simbol-simbol agama seperti Salib Besar dan apalagi Jilbab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ihsan berkata lain bahwa buku ini bukan tentang Prancis, melainkan tentang asumsi warga yang harus demokratis dan sekuler untuk dapat hidup di negeri semacam Prancis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hamid kelihatan goblok dan Ihsan terdengar latah. Lagi-lagi Hamid nyasar ke otonomi individu sebagaimana doktrin intelektualnya di Jaringan Islam Liberal. Sedang Ihsan ngomong lagi tentang Partai Sosial Demokrat yang berlatar agama konservatif di Belgia pada 1987 yang menjadi moderat setelah berkuasa dan FIS di Aljazair yang ditekel di tengah jalan (Chalivas). Bahwa yang mungkin menyimpang adalah kaum moderat sebagaimana Hitler dan Musolini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yah, aku hendak bertanya bahwa andaikan isu Islam di Prancis adalah Politis maka kaum akademisi menjadi setengah hati dalam memberi kritik. Yang marah sebagaimana kasus di Indonesia pasti organ politik. Maka seperti apa model kecenderungan kritik kaum Intelektual di Barat terhadap isu Politis?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan kedua, bahwa Prancis boleh jadi butuh legitimasi besar. Maka andaikan survey Gallup Worlpoll terhadap 1.3 milyar muslim di 57 negara menjadi legitimasi, maka seberapa besar pengaruh polling ini terhadap kebijakan politis Prancis. Ataukah Prancis tetap arogan, superior dengan asumsi leisetenya?  (Freedom Institute)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bangkok Dangerous&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah lelah berjalan, aku dan sahabat kecilku melepas penat di sebuah bioskop pojok Proklamasi. Kami terkesan dengan Bangkok Dangerous dengan aktor bermata jernih, Nicolas Cage. Kami menikmati hingga menjelang buka puasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yah, sebuh film yang sederhana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Proklamasi)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar kepada Sang Maestro&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejenak duduk bersama Bang Yusran Darmawan benar-benar terasa menyejukan. Aku belajar banyak hal dari pengetahuannya yang menggunung. Dia pribadi yang luar biasa. (Kayu Manis)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-851514293381777323?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/851514293381777323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=851514293381777323&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/851514293381777323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/851514293381777323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/09/tadarrus-ramadhan.html' title='TADARRUS RAMADHAN'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SM0q9YLe6MI/AAAAAAAAAHM/qwju1J1c2Bc/s72-c/Fanon.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-7927673902302389595</id><published>2008-09-08T21:39:00.004+07:00</published><updated>2008-09-08T21:58:23.197+07:00</updated><title type='text'>Meloncat Estetis: Dari Langit Freedom ke Belukar Utan Kayu</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU9fQRe0jI/AAAAAAAAAHE/bVd3MYpUQ9w/s1600-h/Khaldun+Kecil.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243664948296340018" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU9fQRe0jI/AAAAAAAAAHE/bVd3MYpUQ9w/s200/Khaldun+Kecil.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kamis Siang ( 4/9/08) tadi, Aku beranjak menuju Freedom Institute. Di sana berjumpa dengan pengetahuan dan banyak buku. Mumpung lagi Ramadhan, menunggu buka puasa akan tak terasa. Freedom cenderung memperbesar ruang untuk wacana politik. Apalagi Rizal Mallarangeng sebagai Direktur Eksekutif berhasrat menjadi Presiden 2009.&lt;br /&gt;Setelah melepas hajat rasa ingin tahu, akhirnya aku meloncat meninggalkan Freedom. Aku bersama Qadir menuju Komunitas Utan Kayu. Di sana ada “Mengaji Politik Islam Kitab Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi. Panelisnya adalah Imdad dan Moqsith Ghazali. Imdad berbicara tentang pesan moral dalam kitab itu. Sedang Moqsith mengulas konteks social politik pemikiran Al-Mawardi. Aku demikian takjub terhadap Moqsith. Betapa Ia maha mengetahui politik Islam. Ia berkata, “ Intelektual muslim pertama yang membahas politik adalah Ibnu Abi Rabi. Kemudian disusul Al-Farabi dengan karya Al-Madinah Al-Fadhilah. Al-Mawardi baru hadir sebagai generasi ketiga sekitar abad XI M saat kontrak social dan nation-state belum dikenal. Pasca Al-Mawardi, muncullah Al-Ghazali, disusul Ibnu Taimiyyah dan terakhir adalah Ali Abd Raziq.”&lt;br /&gt;Terakhir, saya berkata lagi kepada diri sendiri bahwa jiwaku demikian mengagumi cahaya pengetahuan DR. Abdul Moqsith Ghazali. Setelah diskusi selesai sekitar pkl. 21.00, aku meluncur… &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-7927673902302389595?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/7927673902302389595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=7927673902302389595&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7927673902302389595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7927673902302389595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/09/meloncat-estetis.html' title='Meloncat Estetis: Dari Langit Freedom ke Belukar Utan Kayu'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU9fQRe0jI/AAAAAAAAAHE/bVd3MYpUQ9w/s72-c/Khaldun+Kecil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-6358650767470594614</id><published>2008-09-08T21:35:00.001+07:00</published><updated>2011-12-29T20:47:02.738+07:00</updated><title type='text'>Pagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU5BOuZCOI/AAAAAAAAAG0/RdZoaEcXNAQ/s1600-h/Pagi+Azahra.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243660034438138082" src="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU5BOuZCOI/AAAAAAAAAG0/RdZoaEcXNAQ/s200/Pagi+Azahra.jpg" style="cursor: hand; float: right; margin: 0px 0px 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku Pecinta Pagi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi kali ini...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku suka dengan becak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yah, becak…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika aku dan seorang perempuan bersama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku ingin di dunia ini…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya ada becak,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Becak yang sederhana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi II&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi datang ke wajahku,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia berucap, “Aku petanda baik.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hati kecil berisik, “Ah, tida’ deh.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi bertanya, “trus apa ji poeng bagimu?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jiwaku menjawab, “saya Dia ji yang lebih indah, lebih sejuk dari ta’ pagi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi III&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sungguh suka dengan cahaya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cahaya matahari, cahaya bulan, dan cahaya bintang di kejauhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu saat…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku merasa ada cahaya lain,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cahaya yang tak lazim&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika aku mendekat, Ia serasa menyelimuti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cahaya yang baik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cahaya itu seringkali menimpal, “nda bisa ka’, nda mau ka’, biar mi deh.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semalam cahaya itu juga berkata, “hati-hati ki’, banyak sekali saya bikin besok.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia menekan lidahku, “saya memang jahat.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku dan kemudian membatin, “kodong, kasian ku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terakhir, …&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia menjadi baik, bersabda seraya tersenyum,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maafkan semua kata dan tingkahku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ramadhan 1429 H&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-6358650767470594614?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/6358650767470594614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=6358650767470594614&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6358650767470594614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/6358650767470594614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/09/pagi.html' title='Pagi'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU5BOuZCOI/AAAAAAAAAG0/RdZoaEcXNAQ/s72-c/Pagi+Azahra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-8045528920553346034</id><published>2008-09-08T21:20:00.001+07:00</published><updated>2008-09-08T21:30:44.672+07:00</updated><title type='text'>Nalar Waktu, Cinta dan Manusia (Sebuah Pengantar)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU23Nm_lxI/AAAAAAAAAGs/Du9n45hsgOQ/s1600-h/Heidegger.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243657663316727570" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU23Nm_lxI/AAAAAAAAAGs/Du9n45hsgOQ/s200/Heidegger.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siapa pun akan terhenyak dengan esensi waktu yang menakjubkan. Waktu telah melingkari manusia sebagai takdir semesta. Namun, kesadaran akan hakikat waktu seolah menjadi misterius. Manusia seakan berlari dari masa kini menuju masa depan seraya menatap masa silam. Proses berlari yang menjadi penyingkapan realitas manusia, yang bersifat res privata.&lt;br /&gt;Ketika menyingkap realitas manusia yang serba-mungkin, terasa dominasi masa silam yang menyeruak ke permukaan. Ada keindahan tak terkira dan tak berbatas yang tersembul dari peristiwa masa silam. Di arena inilah, manusia sebagai makhluk yang bermain akan merasa bebas dalam melukis keindahan waktu. Sebab setiap manusia memiliki kesunyian dan pencapaian yang subjektif.&lt;br /&gt;Proses penyingkapan masa silam adalah proses menjadi Adimanusia. Proses mengenali kesejatian manusia sebagai mikrokosmik. Manusia berhasrat mengenali dirinya sebelum masuk ke masa depan. Manusia seakan berikhtiar menyempurnakan kemanusiaannya dalam alur waktu yang relative dan penuh dengan kemungkinan.&lt;br /&gt;Manusia berharap melihat dirinya dalam mimpi yang sempurna di masa depan. Mimpi kesempurnaan yang menghantui manusia untuk mengingat masa silamnya dengan beragam karya dan provokasi. Sang Sultan yang membangun Taj Mahal sebagai ingatan kesempurnaan Sang Permaisuri. Fir’aun yang membangun Piramida sebagai ingatan kesempurnaan akan kekuasaan di tanah Mesir. Wiji Tukul yang menulis puisi akan mimpinya tentang Indonesia yang lebih baik dan lebih adil bagi kaum dhuafa. Dan coretan kecil ini yang memotret nalar manusia dalam menjalin kasih demi memenuhi hasrat misterius manusia.&lt;br /&gt;Melukis waktu menjadi coretan kecil menjadi fenomena eksistensi kemanusiaan. Coretan kecil dapat berupa sebaris puisi tentang pengungkapan jiwa yang dalam di mana pencipta menari demi dirinya atau coretan kecil tentang dialog hidup demi mencari simpati dan berbagi dengan manusia di semesta raya. Namun, hanya sedikit yang berhasrat menciptakan karya sebagai manifesto keutuhan diri. Kedirian yang mencoba menjadi manusia utuh dengan mengenal rasa terdalam kemanusiaan untuk mencintai dan dicintai. Sebuah karya tentang manusia sebab hanya manusia yang mampu melukis kembali sejarahnya.&lt;br /&gt;Coretan waktu adalah selintas refleksi manusiawi tentang rasa kemanusiaan yang ditahbiskan sebagai misteri cinta. Rasa yang mencari nalar dalam praksis lautan kasih. Namun, nalar tidak akan memadai untuk setitik cinta. Sebab cinta adalah totalitas yang melibatkan semesta. Cinta melampaui semua dimensi manusiawi. Cinta hadir untuk diterima secara niscaya. Manusia tidak dapat tidak menerima cinta. Manusia dikatakan manusia sebab dalam dirinya bersemayam cinta yang termanifestasi dalam pikir, sikap dan perilakunya. Alasan inilah yang meniscayakan setiap karya tentang cinta adalah penghampiran akan misteri cinta. Penghampiran yang boleh jadi hanya reduksi atau titik awal.&lt;br /&gt;Cinta ibarat cermin yang jernih bagi pecinta. Cinta dapat memantulkan hakikat kemanusiaan. Inilah alasan bagi pecinta untuk memiliki cinta yang dalam. Walau cinta seringkali menjadi kabur oleh banalitas manusia yang terjebak dalam perspektif empiris-material. Manusia hanya dapat memahami cinta ketika cermin hati diseka dengan keikhlasan yang metafisik.&lt;br /&gt;Semua yang mencinta akan menjadi suci. Sebab mencinta adalah proses menyerap asma-asma Tuhan yang Maha Suci. Ketika manusia mencinta maka jiwa dan nuraninya akan terseret mengikuti arah cinta membawanya. Kebesaran cinta akan semakin terlihat ketika ia dipraksiskan secara tulus dan apa adanya. Cinta akan menerangi manusia dari kegelapan dan membebaskan manusia dari belenggu kebekuan.&lt;br /&gt;Manusia melihat cinta seperti kehadiran Sang Agung dalam diri manusia. Seorang Muslim meyakini bahwa cinta hadir dalam wujud suci Muhammad yang transenden. Dan seorang Kristen merasa cinta hadir dalam diri Yesus. Konsekuensi logisnya, seorang Muslim ketika mencintai berarti me-Muhammad, yakni meleburkan dimensi kemanusiaannya menjadi Muhammad.&lt;br /&gt;Betapa agung spirit dari sebuah cinta hingga menjadi energi terhebat dalam hidup. Siapa pun akan membela kesejatian cinta walau harus melawan kelaziman dan harus menjadi deviant. Setiap cinta yang besar berawal dari kesederhanaan. Sebuah iktikad melihat yang dicintai menjadi lebih baik dan merasa sejuk. Ibarat cinta lilin yang rela meleleh demi menerangi kegelapan sekitar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-8045528920553346034?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/8045528920553346034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=8045528920553346034&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/8045528920553346034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/8045528920553346034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/09/nalar-waktu-cinta-dan-manusia-sebuah.html' title='Nalar Waktu, Cinta dan Manusia (Sebuah Pengantar)'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SMU23Nm_lxI/AAAAAAAAAGs/Du9n45hsgOQ/s72-c/Heidegger.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-8891545675967656278</id><published>2008-06-07T12:29:00.004+07:00</published><updated>2008-06-07T12:38:13.676+07:00</updated><title type='text'>Terlempar dalam Sejarah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SEodiW8DqUI/AAAAAAAAAGk/6URNDJZkMr0/s1600-h/Hatta.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209008395117635906" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SEodiW8DqUI/AAAAAAAAAGk/6URNDJZkMr0/s200/Hatta.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Soe Hoek Gie: ”Untuk mengenal Indonesia lebih dekat, saya mendaki gunung.”&lt;br /&gt;Thaufan: “Untuk menyempurnakan ke-Indonesiaanku, saya berhasrat menginjak tiap jengkal tanah airku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perjalanan budaya menuju tanah Minangkabau. Saya berhasrat mengunjungi bumi yang melahirkan banyak negarawan semisal Bung Hatta, Tan Malaka, dan Buya Hamka. Hasrat pun menjadi kenyataan. Bumi Minangkabau telah mendatangiku.&lt;br /&gt;Ketika beranjak, Minggu 30 Mei 08 pkl. 06.30 pagi dari bandara Sukarno Hatta dengan Garuda Indonesia, saya telah membahagiakan diri. Sebisa mungkin memenuhi rongga dada dengan nafas kesyukuran. Semoga petualangan ini membuahkan kebaikan dan pengetahuan. Tiba di Bandara Minang sekitar pkl. 08.15.&lt;br /&gt;Perjalanan kali ini beda. Detik-detik dipenuhi dengan diskusi kecil. Ini lantaran saya berdekatan dengan Bos Minyak Indonesia, Bang Arifin Panigoro. “Jadi, bagaimana cara menghadapi hidup Bang?” ungkapku dengan sebuah tanya, memulai diskusi ala Socrates. “Sederhana saja. Dikau harus baik, jujur, kerja keras dan memperbanyak kawan,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Dikau kuliah di mana?” tanyanya. “Saya di Paramadina Bang,” jawabku. “Good,” jawabnya lagi. “Saya mengenal Cak Nur dengan gagasannya yang cantik. Beliau mengatakan ketertinggalan bangsa ini dari Negara-negara maju masih dapat dikejar, bahkan ketertinggalan seratus tahun itu masih singkat. Hanya bangsa ini perlu pemimpin yang tepat. Saya yakin bangsa ini masih punya banyak pemimpin yang tegas dan dapat membawa bangsa ini lebih maju,” imbuhnya.&lt;br /&gt;“ Bagaimana pendapat dikau pemilu 2009?” tanyanya kepadaku. “Bukannya abang tidak lagi mengurus politik,” jawabku. Dia hanya tersenyum. Lalu saya berkata, “Saya bersama kawan-kawan berdiskusi seputar kontestasi menjelang Pemilu di Indonesia. Masih partai dan figure yang sama. Hampir tidak ada perubahan. Ada tiga jenis polling yang dilakukan oleh media secara underground. Polling pertama memenangkan SBY. Polling kedua memenangkan Sri Sultan. Polling ketiga memenangkan kaum muda yang visioner layak jadi pemimpin nasional.”&lt;br /&gt;Tak terasa, sejam perjalanan membawa kami tiba di Bandara Minangkau Padang. Saya beranjak. Berpisah dengan Bang Arifin yang sederhana, ramah dan misterius. Saya menuju Plaza Andalas bertemu dengan peneliti lapangan yang akan membantu semua misi-misi budaya di Sumatera Barat, terutama di Padang.&lt;br /&gt;Hari pertama, saya dijangkiti penyakit lama yang sangat kronis. Diskusi dan diskusi lagi. Sekadar mencuci otak sendiri dan otak sahabat-sahabat yang cenderung beku dan mapan belakangan ini. Diskusi tentang masa depan Islam, masa depan Umat dan masa depan bangsa ini. Selalu saja kita terjebak dengan diskusi besar.&lt;br /&gt;Ungkapku, “Kita butuh pemikiran dan metode baru untuk menggerakkan kemanusiaan kita. Kita butuh wacana intelektual yang relevan dengan konteks zaman. Kita butuh kader-kader yang ekstrim nan hebat.”&lt;br /&gt;Inilah wacana yang cenderung berulang. Sekadar unjuk gigi sebagai watak purba manusia. Inilah awal skeptisisme-ku.&lt;br /&gt;Hari kedua, terjebak di jembatan Siti Nurbaya bersama jagung bakar yang dihidangkan dengan racikan yang pas. Lumayan, bisa kuliah kuliner di sore gerimis. “Boleh jadi jembatan ini dibangun oleh Datuk Maringgi sebagai kenangan buat Siti Nurbaya. Rasa-rasanya prasangka saya ini benar sebagaimana benarnya Taj Mahal dipersembahkan Sultan buat sang Permaisuri yang terkasih. Kecuali suatu ketika, ada perempuan Padang mengatakan kepadaku yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Hari ketiga, makan rendang. Ternyata rendang Padang dan rendang-rendang lain tidaklah benar-benar berbeda. Semuanya daging. Saat makan rendang, saya berpikir, “Boleh jadi factor utama kecerdasan orang Padang hingga melahirkan negarawan selain karena asumsi kebudayaan Minang yang hebat dan mengakar relijius ke langit, mungkin karena rendang ini. Rendang ini mengandaikan kecerdasan Hamka, Hatta dan Malaka lantaran mereka berbeda dalam arus pemikiran namun sama-sama makan rendang.&lt;br /&gt;Hari keempat, berwisata intelektual ke Universitas Andalas. Kata seorang sahabat, Universitas Andalas adalah kampus terluas di Indonesia dan tercantik dari segi arsitektur. Benar atau salah tergantung sudut pandang. Kalau sudutnya adalah luas hutan dan mata orang Minang, boleh jadi. Namun, terlepas dari itu semua, kampus ini menyisakan sedikit harapan baru.&lt;br /&gt;Hari kelima, Padang selalu hujan. Hari dan malamku disambut hujan. Hujan adalah kebaikan bagi bumi. Dan kita adalah penghuni bumi. Jadi hujan adalah kebaikan buat kita juga. Saya terjebak hujan berkali-kali.&lt;br /&gt;Hari Minggu, saya ke Gramedia ditemani oleh sahabat kasih. Sebelas menit oleh Coelho dan Change yout Life oleh Essex akhirnya bisa terbeli. Dengar diskusi di Book Fair tentang masa depan Islam fundamentalis. Sore beranjak ke rumah lagi.&lt;br /&gt;Rabu, 04 Juni 08, saya balik dari Padang. Alhamdulillah, selamat hingga terkapar di rumah kembali.&lt;br /&gt;Akhirnya, Padang adalah negeri yang baik. Semoga silaturahim ini menjadi berarti pada akhirnya. Amin Mujibassailin&lt;br /&gt;Kayu Manis 05 Juni 2008 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-8891545675967656278?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/8891545675967656278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=8891545675967656278&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/8891545675967656278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/8891545675967656278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/06/terlempar-dalam-proses-sejara.html' title='Terlempar dalam Sejarah'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SEodiW8DqUI/AAAAAAAAAGk/6URNDJZkMr0/s72-c/Hatta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-7020362225865058451</id><published>2008-05-23T09:47:00.007+07:00</published><updated>2008-05-23T19:01:33.697+07:00</updated><title type='text'>Indonesia Kita</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SDYxYSTZIPI/AAAAAAAAAGc/Rc9x5BDNHYw/s1600-h/sukarno.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203400712772985074" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SDYxYSTZIPI/AAAAAAAAAGc/Rc9x5BDNHYw/s200/sukarno.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemarin malam, Selasa 20/5/08, saya menyaksikan perayaan seabad Kebangkitan Nasional di Gelora Bung Karno. Ribuan rakyat dan segelintir elit menghadiri dengan antusias. Gegap gempita Indonesia dari dekat, dari atraksi penerjun terbaik Indonesia, harmoni nusantara hingga kehebatan bela diri militer dan sipil Indonesia.&lt;br /&gt;Saya hampir kehilangan rasa ke-Indonesiaan akhir-akhir ini, hingga malam itu saya menyaksikan wajah lain Indonesia yang penuh dengan semangat dan harapan. Harmoni kebudayaan yang ditampilkan secara sempurna mewakili ke-Indonesiaan kita yang beragam. Indonesia yang kaya dengan kebudayaan. Saya benar-benar takjub.&lt;br /&gt;Indonesia kita adalah Indonesia yang dihuni massa. Massa yang boleh jadi hanya memiliki kesadaran praktis dan naïf. Massa yang memiliki logika yang sama, logika kejujuran. Ribuan rakyat dihadirkan. Entah, mereka hadir atas kemauan sendiri atau, sebenarnya tidak. Namun, jelas ada kesadaran akan ke-Indonesiaan yang hancur dan harapan akan esok yang lebih baik.&lt;br /&gt;Kebudayaan kita adalah kebudayaan yang tinggi. Memiliki akar spiritual yang terlihat dari tari-tarian, atraksi militer, jurus pesilat hingga bahkan cara kita mengumpulkan dan mengelola rakyat dan Negara ini. Dan budaya massa kita pun sebenarnya terasa berbeda dari budaya massa manapun. Sebab massa kita adalah massa yang sadar diri akan Indonesia yang terpuruk.&lt;br /&gt;Saya memahami Indonesia dari apa yang terlihat. Indonesia dengan banyak etnis dan multikultur. Kultur di Indonesia mempengaruhi warna budaya massa di Indonesia kita. Saya selalu berharap ke-Indonesiaan kita harus mencerminkan kebudayaan yang luhur dan beragam. Ke-indonesian yang tulus dan mudah dimengerti.&lt;br /&gt;Ke-Indonesiaan kita adalah ke-Indonesiaan yang bersejarah. Bukan sekadar komunitas yang dibayangkan secara banal dan indoktrinal. Semua memiliki peran dalam menyemai dan memekarkan ke-Indonesiaan kita.&lt;br /&gt;Yang paling berperan dalam konteks hasrat ke-Indonesiaan kita hari ini adalah media. Ia yang paling memungkinkan untuk tumbuhnya kesadaran praktis akan ke-Indonesiaan yang dalam tak terukur dan luas tak bertepi. Pendalaman dan perluasan makna ke-Indonesiaan yang berakar pada tradisi kita yang transenden benar-benar menjadi ranah kreatifitas media.&lt;br /&gt;Media di Indonesia tidak harus naïf dan menjadi teramat dominant. Media harus menjadi wahana kebudayaan, mengingatkan dan menguatkan basis cultural ke-Indonesiaan kita. Media di Indonesia tidak boleh menjungkirbalikkan nilai demi kepentingan capital. Media harus lebih cerdas, menjadi guru yang bijaksana bagi rakyat. Media harus menjadi cermin tradisi rakyat yang agung dan luhur. Bukan menjadi benalu dengan kebudayaan aneh tanpa asal-usul.&lt;br /&gt;Siapa massa? Apa peran media yang sejati? Dan ke mana arah nasionalisme kita? Massa adalah harmoni kebudayaan Indonesia. Peran media adalah menumbuhkan cita rasa kebudayaan dan arah nasionalisme adalah kemanusiaan yang hakiki dan transenden.&lt;br /&gt;Kayu Manis, 21 Mei 08 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-7020362225865058451?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/7020362225865058451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=7020362225865058451&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7020362225865058451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/7020362225865058451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/05/indonesia-kita.html' title='Indonesia Kita'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SDYxYSTZIPI/AAAAAAAAAGc/Rc9x5BDNHYw/s72-c/sukarno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-9045726755491504961</id><published>2008-05-13T15:48:00.008+07:00</published><updated>2011-12-29T20:48:09.657+07:00</updated><title type='text'>The Community</title><content type='html'>&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SClW7x_HXII/AAAAAAAAAGU/Cr4-0j0cWKI/s1600-h/Rumi.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199782829806279810" src="http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SClW7x_HXII/AAAAAAAAAGU/Cr4-0j0cWKI/s200/Rumi.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;There is a community of the spirit.&lt;br /&gt;Join it, and feel the delight&lt;br /&gt;of walking in the noisy street&lt;br /&gt;and being the noise.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Drink all your passion,&lt;br /&gt;and be a disgrace.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Close both eyes&lt;br /&gt;to see with the other eye.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Open your hands,&lt;br /&gt;if you want to be held.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Sit down in the circle.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Quit acting like a wolf, and feel&lt;br /&gt;the shepherd's love filling you.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;At night, your beloved wanders.&lt;br /&gt;Don't accept consolations.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Close your mouth against food.&lt;br /&gt;Taste the lover's mouth in yours.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;You moan, "She left me." "He left me."&lt;br /&gt;Twenty more will come.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Be empty of worrying.&lt;br /&gt;Think of who created thought!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Why do you stay in prison&lt;br /&gt;when the door is so wide open?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Move outside the tangle of fear-thinking.&lt;br /&gt;Live in silence.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Flow down and down in always&lt;br /&gt;widening rings of being.&lt;/div&gt;&lt;h1 style="color: black; text-align: justify;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;When my Beloved appears…&lt;br /&gt;With what eye do I see Him ?&lt;br /&gt;With His eye, not with mine…&lt;br /&gt;For none sees Him except Himself&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-9045726755491504961?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/9045726755491504961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=9045726755491504961&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/9045726755491504961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/9045726755491504961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/05/our-community.html' title='The Community'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SClW7x_HXII/AAAAAAAAAGU/Cr4-0j0cWKI/s72-c/Rumi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-674038640138594459</id><published>2008-05-09T12:55:00.006+07:00</published><updated>2008-05-11T22:01:04.272+07:00</updated><title type='text'>Tradisi Menulis</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SCWLr9fgRxI/AAAAAAAAAE8/N79EY33GhQk/s1600-h/Ibn+Sina.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198714932226443026" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SCWLr9fgRxI/AAAAAAAAAE8/N79EY33GhQk/s200/Ibn+Sina.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menulis adalah transendensi akan kebenaran ilahiyyat. Menulis adalah seni mengukir gagasan di dalam rumah jiwa. Menulis adalah persaksian tertinggi dalam menemukan nilai tak bertepi. Menulis adalah aksi mengingat kembali realitas yang tercecer di alam yang rendah. Menulis adalah menulis. Menulis menjadi media komunikasi diri dalam sejarah. Sebab betapa banyak yang harus dinyatakan kepada diri dan manusia secara terbuka agar diri dan peradaban manusia bertumbuh. Menulis adalah jalan lain dalam mengenal hakikat.&lt;br /&gt;Betapa sejarah manusia memanjang dari sebuah titik menuju misteri masa depan. Detik-detik duka dan suka manusia, ledakan cinta dan benci, etos dalam komitmen dan pengkhianatan, dituliskan dalam kitab-kitab sejarah manusia.&lt;br /&gt;Menulis adalah detak jantung dan nafas sejarah. Sebab adakah kesinambungan sejarah tanpa menulis. Namun, hanya sedikit yang dapat menghirup kecantikan ini. Sebab sedikit yang dapat melihat hidup dari sudut yang sunyi. Lantaran perayaan manusia adalah kedangkalan dan jebakan fatamorgana.&lt;br /&gt;Menulis hanya dapat dilakukan oleh filsuf dan yang mengagumi kaum filsuf. Menulis adalah cinta yang dalam, menelusuri keberadaan sejati. Menulis terasa begitu melelahkan kecuali yang mencintai pergeseran kesempurnaan.&lt;br /&gt;Menulis adalah moment penting sang adimanusia. Ketika emosi menghunjam, seakan wahyu berdatangan. Ketika segenap rasa harus ditarik keluar dari kemapanan dan atau harus dihadirkan secara tulus sebagai dirinya. Yah, hanya menulis yang dapat mencerahkan dan mengantar ke gerbang kearifan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-674038640138594459?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/674038640138594459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=674038640138594459&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/674038640138594459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/674038640138594459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2008/05/membangun-tradisi-menulis.html' title='Tradisi Menulis'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SCWLr9fgRxI/AAAAAAAAAE8/N79EY33GhQk/s72-c/Ibn+Sina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7663191084515304566.post-1728409305753691431</id><published>2007-10-29T16:30:00.004+07:00</published><updated>2008-05-11T02:16:04.736+07:00</updated><title type='text'>Hidup</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SCWOW9fgRzI/AAAAAAAAAFM/Ffy5Ic4f_aA/s1600-h/Nietzsche2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198717869984073522" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SCWOW9fgRzI/AAAAAAAAAFM/Ffy5Ic4f_aA/s200/Nietzsche2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SCWM-NfgRyI/AAAAAAAAAFE/N5oXPl95wfY/s1600-h/Nietzsche.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Ini cerita tentang hidup. Harap menemukan otentisitas diri dalam sejarah. walau, sekafir fir'aun, boleh jadi lebih berharga daripada menjadi manusia standar. Ini ungkapan ironis nan paradoksal. Namun, mereka yang menjadi penakluk sejarah adalah mereka yang mencintai keabadian.&lt;br /&gt;Hidup haruslah menjadi cermin mimpi-mimpi indah. Sebab bagi sang periang, surga bersifat profan dan transenden. Tak ada alasan untuk tidak bahagia. Riang di sedih manusia standar dan cibir di saat tawa mereka.  sekadar menebar kebajikan baru.&lt;br /&gt;Bukan menyalahkan, namun  menyedihkan mereka. watak  manusia sejati dipenjarakan oleh mereka  yang bahagia dengan massa. mestinya mereka banyak menatap langit.&lt;br /&gt;Manusia teramat sejati  untuk  direduksi  dalam  asumsi primordial selayaknya  materialisme, hedonisme, dan imanisme. maka mari bersedih dan menjadi imam bagi domba-domba yang sedang mabuk.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7663191084515304566-1728409305753691431?l=thaufan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thaufan.blogspot.com/feeds/1728409305753691431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7663191084515304566&amp;postID=1728409305753691431&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/1728409305753691431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7663191084515304566/posts/default/1728409305753691431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thaufan.blogspot.com/2007/10/hidup.html' title='Hidup'/><author><name>Philosophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11202085326032208783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_P2bbTpWvqy0/SCWOW9fgRzI/AAAAAAAAAFM/Ffy5Ic4f_aA/s72-c/Nietzsche2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
